Maria Ratu Damai

Maria Ratu Damai

Senin, 07 Maret 2011

Senin, 07 Maret 2011
Pw. Sta. Perpetua dan Felisitas, Martir

"Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. " (Mzm 112:1-2)

Perpetua dan Felisitas hidup di Kartago, Afrika Utara, pada abad ketiga. Pada masa itu terjadi penganiayaan yang hebat atas orang-orang Kristen oleh Kaisar Septimus Severus.

Perpetua yang berusia duapuluh dua tahun adalah puteri seorang bangsawan kaya. Semenjak kecilnya ia selalu mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Tetapi ia sadar bahwa ia mengasihi Yesus dan iman Kristianinya jauh lebih berharga dari apa pun yang dapat ditawarkan oleh dunia. Oleh karena imannya itulah ia menjadi seorang tahanan yang siap menghadapi hukuman mati. Ayah Perpetua adalah seorang kafir. Ia melakukan segala daya upaya untuk membujuk puterinya agar mengingkari iman Kristianinya. Ia berusaha meyakinkan Perpetua akan betapa pentingnya menyelamatkan nyawanya. Tetapi, Perpetua tetap pada pendiriannya, meskipun ia tahu bahwa ia harus meninggalkan suami serta bayinya.

Felisitas, pelayan Perpetua yang Kristen, adalah seorang budak. Ia dan Perpetua bersahabat. Mereka saling berbagi iman dan cinta akan Yesus. Felisitas juga rela kehilangan nyawanya bagi Yesus dan bagi imannya. Oleh sebab itu ia juga menjadi seorang tahanan yang siap menghadapi hukuman mati. Felisitas adalah seorang isteri. Ketika sedang di penjara karena imannya, ia juga menjadi seorang ibu muda pula. Bayinya diangkat anak oleh seorang wanita Kristen yang baik. Felisitas amat bahagia karena sekarang ia dapat pergi sebagai martir. Bergandengan tangan, Perpetua dan Felisitas menghadapi kemartiran mereka dengan gagah berani. Mereka dijadikan mangsa binatang-binatang buas dan kemudian dipenggal kepalanya. Mereka berdua wafat sekitar tahun 202.

Antifon Pembuka

Berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan, yang sangat suka akan segala perintah-Nya (Mzm 112:1-2)

Doa Renungan

Allah Bapa kami, siapapun juga yang percaya pada Yesus Putra-Mu, Kaucurahi dengan Roh Kudus agar hati dan budinya menjadi suci dan murni, dibersihkan dari kuasa kegelapan dan dibebaskan dari kuasa jahat. Tinggallah disini, dan perbaharuilah hidup kami agar perbuatan baik dan luhurlah yang kami kerjakan, sehingga kami pantas ambil bagian dalam memuliakan nama-Mu. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Tobit (1:1-3, 2:1b-8)

"Tobit lebih takut kepada Tuhan daripada kepada raja."

Aku, Tobit, menempuh jalan kebenaran dan kesalehan seumur hidupku dan banyak melakukan kebajikan kepada para saudara dan segenap bangsaku yang bersama dengan daku telah berangkat ke pembuangan, ke negeri Asyur, ke kota Niniwe. Sekali peristiwa pada hari raya Pentakosta, yaitu hari raya Tujuh Minggu, disajikan kepadaku suatu jamuan makan yang baik. Aku pun telah duduk untuk makan. Sebuah meja ditempatkan di hadapanku dan kepadaku disajikan banyak hidangan. Tetapi berkatalah aku kepada anakku Tobia, “Nak, pergilah, dan jika kaujumpai seorang miskin dari saudara-saudara kita yang diangkut tertawan ke Niniwe dan yang dengan segenap hati ingat akan Tuhan, bawalah ke mari, supaya ikut makan. Aku hendak menunggu, hingga engkau kembali.” Maka keluarlah Tobia untuk mencari seorang saudara yang miskin. Sepulangnya berkatalah ia, “Pak!” Sahutku, “Ada apa, nak?” Jawabnya, “Salah seorang dari bangsa kita telah dibunuh. Ia dicekik dan dibuang di pasar. Jenazahnya masih ada di situ!” Aku meloncat berdiri, dan jamuan itu kutinggalkan sebelum kukecap. Jenazah itu kuangkat dari lapangan dan kutaruh di dalam salah satu rumah hingga matahari terbenam, untuk kukuburkan nanti. Kemudian aku pulang, kubasuh diriku, lalu makan dengan sedih hati. Maka teringatlah aku akan sabda yang diucapkan Nabi Amos mengenai kota Betel, “Hari-hari rayamu akan berubah menjadi hari sedih dan segala nyanyianmu akan menjadi ratapan!” Lalu menangislah aku. Setelah matahari terbenam aku pergi menggali liang, lalu jenazah itu kukuburkan. Para tetangga menertawakan daku, katanya, “Ia belum juga takut! Sudah pernah ia dicari untuk dibunuh karena perkara yang sama. Dahulu ia melarikan diri dan sekarang ia menguburkan jenazah lagi!” Tetapi Tobit lebih takut kepada Allah daripada kepada Raja.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan
Ayat. (Mzm 112:1-2.3-4.5-6)
1. Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan, yang sangat suka akan segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; keturunan orang benar akan diberkati.
2. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap dikenang selama-lamanya. Bagi orang benar ia bercahaya laksana lampu di dalam gelap, ia pengasih dan penyayang serta berlaku adil.
3. Orang baik menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, ia melakukan segala urusan dengan semestinya. Orang jujur tidak pernah goyah, ia kan dikenang selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (1Yoh 4:10b)
Yesus Kristus, Engkaulah saksi yang setia, yang pertama bangkit dari alam maut; Engkau mengasihi kami dan mencuci dosa kami dalam darah-Mu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (12:1-12)

"Mereka menangkap dan membunuh putra kesayangan, dan melemparkannya ke luar kebun anggur."

Pada suatu hari Yesus berbicara kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan kaum tua-tua dengan perumpamaan, kata-Nya, "Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita." Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Saat renungan ini ditulis, kasus Gayus Tambunan, sedang ramai dibicarakan. Gayus, pegawai pajak biasa, telah menilep uang pajak milyaran rupiah. Orang pun tersentak dan terkaget-kaget bahwa pegawai sekelas Gayus mampu mengorupsi uang begitu banyak. Seolah-olah soal pajak adalah miliknya sendiri. Itulah juga yang terjadi pada para pekerja upahan di kebun anggur dalam Injil hari ini. Para petani tersebut menjadi serakah dan tidak tahu diri. Mereka jadikan seolah-olah ladang anggur itu milik mereka sendiri. Bahkan, anak yang empunya kebun pun mereka aniaya dan mereka bunuh.

Perumpamaan tentang para pekerja upahan di kebun anggur merupakan kritikan tajam Yesus pada sikap bangsa Israel. Yesus menunjukkan kesalahan bangsa Israel yang menjadikan Kerajaan Allah sebagai milik pribadi. Mereka menyepelekan Firman-Nya dan menolak menaati Putra-Nya, Yesus Kristus. Bahaya seperti ini dapat terus terulang. Para penguasa Gereja dapat saja menunjukkan sikap yang sama seperti para penggarap tanah yang jahat itu. Hal itu terjadi bila mereka menjalani kekuasaannya menurut pikiran mereka sendiri saja dan menolak Firman Allah.

Tuhan, bukalah hati dan budiku agar aku dapat selalu terbuka pada Sabda yang Kausampaikan kepadaku. Amin.

Ziarah Batin 2011, Renungan dan Catatan Harian
Catatan orang kudus: diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media

Jumat, 04 Maret 2011

Jumat, 04 Maret 2011
Jumat Pertama Dalam Bulan

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Mat 11:28)

Antifon Pembuka

Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan. Pujilah Dia dalam himpunan umat-Nya (Mzm 149:1)

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahabaik, betapa engkau mengasihi kami lebih dari segalanya. Ketika kami dalam kesulitan, Engkau mengundang kami datang kepada-Mu untuk menyerahkan semuanya pada-Mu. Engkau berjanji akan memberikan kelegaan bagi kami. Semoga kami dapat mengalami pemeliharaan-Mu yang besar dalam segala usaha kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Hidup kita berasal dari kebaikan orang lain. Kita menemukan warisan berharga dari para leluhur kita. Oleh karena itu, hidup mereka tidak hanya pantas diagungkan, melainkan juga perjuangan mereka layak dicontoh.

Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh (44:1.9-12)

Kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para leluhur kita, menurut urut-urutannya. Di antara mereka ada yang tidak diingat lagi, yang lenyap seolah-olah tidak pernah ada. Mereka itu seolah-olah tidak pernah dilahirkan, dan demikian pula nasib anak-anak mereka sesudahnya. Tetapi yang lain adalah orang kesayangan, yang kebajikannya tidak sampai terlupa. Semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak mereka pun demikian pula keadaannya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan berkenan kepada umat-Nya.
Ayat. (Mzm 149:1-2.3-4.5-6a.9b)
1. Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh! Biarlah Israel bersukacita atas Pencipta-Nya biarlah Sion bersorak sorai atas raja mereka.
2. Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.
3. Biarlah orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak sorai di atas tempat tidur! Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka. Itulah semarak bagi orang yang dikasihi Allah.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Aku telah memilih kalian dari dunia, agar kalian pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap. Alleluya.

Bait Allah merupakan tempat kehadiran Allah yang menyelamatkan. Namun mereka menyalahgunakannya untuk mencari keuntungan. Sehingga hidup mereka bagaikan pohon ara yang tidak berbuah. Yesus ingin mengembalikan fungsi Bait Allah sebagaimana mestinya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (11:11-26)

"Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa."

Pada waktu Yesus tiba di Yerusalem, Ia masuk ke Bait Allah, dan meninjau semuanya. Tetapi karena hari sudah hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama kedua belas murid-Nya. Keesokan harinya, sesudah mereka itu meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu tiba di situ Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Maka Yesus berkata kepada pohon itu, “Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!” Ucapan itu terdengar pula oleh para murid. Maka Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Yerusalem. Sesudah masuk ke Bait Allah, mulailah Yesus mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, dan Ia tidak mengizinkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kalian ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu. Maka mereka berusaha untuk membinasakan Yesus. Tetapi mereka takut kepada-Nya, sebab mereka melihat orang banyak takjub akan pengajaran-Nya. Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota. Pagi-pagi Yesus dan murid-murid-Nya lewat, dan melihat bahwa pohon ara itu sudah kering sampai ke akar-akarnya. Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.” Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa berkata kepada gunung itu, “Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut”, maka hal itu akan terjadi, asal ia tidak bimbang hati, tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi. Karena itu Aku berkata kepadamu, apa saja yang kalian minta dan kalian doakan, akan diberikan kepadamu, asal kalian percaya bahwa kalian akan menerimanya. Dan jika kalian berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” Tetapi jika kalian tidak mengampuni, maka Bapamu yang di surga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.


Renungan

Kekuatan kata-kata Yesus menjadikan pohon ara tersebut kering kerontang. Wibawa kata-kata Yesus membuat imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat menangguhkan aksi pembunuhan terhadap-Nya. Namun, kata-kata yang paling berarti bagi manusia adalah sabda pengampunan dari Allah, dalam diri Yesus Kristus. Sebab, itulah rangkuman seluruh karya penebusan-Nya. Pengampunan adalah sikap dasar kekristenan.

Doa Malam

Syukur pada-Mu ya Tuhan, atas bimbingan-Mu. Dengan selamat kami bisa melalui hari ini bersama Engkau. Ampunilah kekurangan dan kesalahan kami dan kurniakanlah berkat-Mu untuk menyongsong hari esok. Amin.

Kamis, 03 Maret 2011

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2011KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA

Hari Minggu Biasa IX Tahun A/I, Tanggal 5 – 6 Maret 2011
"MARI BERBAGI - MENUJU PERWUJUDAN DIRI SEJATI"
Saudara-saudari Umat katolik Keuskupan Agung Jakarta yang terkasih,

1. Bersama-sama dengan seluruh Gereja, pada hari Rabu yang akan datang kita memasuki masa Prapaskah. Secara khusus, selama masa Prapaskah kita diajak untuk menyiapkan diri agar pada hari Paskah, kita dapat mengalami secara baru, rahmat keselamatan yang dianugerahkan oleh Allah pada waktu kita dibaptis. Peziarahan rohani ini akan menjadi semakin bermakna kalau ditanda dengan doa yang tekun dan karya-karya kasih yang tulus. Dengan demikian kita; dapat memetik buah-buah penebusan yang menjadi nyata dalam hidup dari yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Dengan menerima hidup baru itu kita semakin mempunyai "pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalan Kristus Yesus" (Flp 2:5), semakin mencapai "kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus" (Ef 4:13). Dengai demikian, Prapaskah adalah masa penuh rahmat ketika kita bersama-sama dengan seluruh Gereja, mengayunkan langkah-langkah kita semakin mantap dalam mengikuti Yesus Kristus. Untuk kepentingan ini, sudah disediakan sarana-sarana pembantu antara lain berupa buku yang berjudul "Retret Agung Umat - Mari Berbagi. Perjalanan Rohani Menanti Kebangkitan"

2.Masa Prapaskah tahun ini kita jalani ketika Gereja Katolik Indonesia mensyukuri Ulang Tahun ke-50 terbentuknya Hirarki, tepatnya pada tanggal 3 hari yang lalu. Limapuluh tahun yang lalu, Pimpinan Gereja Katolik mutuskan untuk mendirikan Hirarki Gereja Katolik Indonesia karena yakin Bahwa Gereja Katolik Indonesia memiliki kemampuan berkembang menjadi gereja yang dewasa, dengan berbagai kekayaan artinya. Salah satunya adalah kemampuan untuk berkembang menjadi Gereja yang merupakan bagian tak pisahkan dari masyarakat dan bangsa Indonesia dengan segala kegembiraan dan harapan serta keprihatinan dan kecemasannya. Sementara itu Keuskupan Agung Jakarta, keuskupan kita, sedang menegaskan kembali cita-cita yang dirumuskan dalam Arah Dasar Pastoral Keuskupan Agung Jakarta, yaitu untuk terus berusaha meneguhkan iman kepada Yesus Kristus, membangun persaudaraan sejati dan terlibat dalam pelayanan kasih. Sejalan dengan cita-cita , dan mempertimbangkan kenyataan hidup di negara kita pada umumnya dan wilayah Keuskupan Agung Jakarta pada khususnya, ditetapkanlah tema Aksi asa Pembangunan "Mari Berbagi". Yang menjadi pertanyaan sekaligus bahan renungan ialah, bagaimana gagasan-gagasan itu, dalam terang Sabda Tuhan yang kita dengarkan pada hari ini, bisa menjadi bekal bagi kita untuk menjadikan masa Prapaskah ini penuh dengan berkat.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

3.Sabda Tuhan yang kita dengarkan pada hari ini dapat meneguhkan pokok-pokok perenungan kita itu. Pimpinan Gereja Katolik mendirikan Hirarki Gereja katolik di Indonesia karena yakin bahwa Gereja Indonesia mampu berkembang menjadi Gereja yang dewasa. Seperti apakah Gereja yang dewasa itu? Menurut kata-kata Injil hari ini, Gereja yang dewasa ialah Gereja yang mendengarkan perkataan Yesus dan melakukan-Nya. Dengan demikian Gereja meletakkan hidupnya pada dasar yang kokoh, seperti orang yang mendirikan rumah di atas tu. Pertanyaan berikutnya muncul : apakah artinya meletakkan hidup pada dasar yang kokoh itu? Jawabannya bermacam-macam. Salah satu jawabannya dapat kita ambil dari Kitab Ulangan yang tadi kita dengarkan : kemampuan untuk memilih berkat, bukan kutuk, kemampuan untuk memilih yang baik dan uar, bukan sekedar yang gampang dan enak. Dengan kata lain, Gereja yang dewasa adalah Gereja - artinya kita semua - yang rajin dan tekun mendengarkan Sabda (bukan sekedar mendengar) untuk mencari dan menemukan kehendak Allah di dalamnya. Dengan demikian hati dan budi kita dicerahkan. Sesudah hati dan budi kita dicerahkan, kita membuat ketetapan hati. Ketetapan hati kita bersama inilah yang dirumuskan dalam Arah Dasar Pastoral Keuskupan Agung Jakarta. Ketetapan hati kita adalah memilih berkat. Berkat itulah yang ingin kita wujudkan bersama dengan semboyan "Mari Berbagi" yang akan kita jalankan bersama khususnya selama masa Prapaskah ini.

4. Salah satu bahan pendukung untuk memperkaya masa Prapaskah ini adalah satu buku yang merupakan kumpulan tulisan yang diberi judul "Mari Berbagi - Menuju Perwujudkan Diri Sejati". Judul buku ini dan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya mengajak kita bertanya, seperti apakah jati diri kita sebagai murid- murid Yesus? Mengenai jati diri manusia, ada juga berbagai macam pendapat. Ada yang mengatakan "Saya berpikir maka saya ada". Bagi yang mengikuti aliran ini, jati diri manusia, hakekat kemanusiaan atau kemuliaan manusia terletak pada kemampuannya berpikir. Ada pula yang mengatakan, "Saya membeli, maka saya ada" atau "Saya berkuasa, maka saya ada". Judul buku yang saya sebut di atas mengajak kita semua untuk menemukan jati diri atau kemuliaan kita sebagai murid-murid Kristus di tempat yang lain. Kita diajak untuk sampai kepada keyakinan "Saya bukanlah kekuasaan yang dapat saya peroleh, atau milik yang dapat saya kumpulkan. Saya adalah berkat yang dapat saya bagikan dalam belarasa".

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Bahwa jati diri manusia dan kemuliaannya terletak dalam kerelaan untuk berbagi, terungkap dalam begitu banyak kisah-kisah kuno. Kisah-kisah seperti itu mengungkapkan kerinduan hati manusia yang terdalam. Salah satunya adalah kisah tentang seorang calon murid yang ingin berguru pada seorang guru bijaksana untuk menjadi manusia mulia. Untuk itu ia pergi kepada seorang guru yang dikenal amat bijaksana. Ia bertanya, "Guru, apa yang harus saya tempuh agar saya menjadi manusia mulia". Guru itu menjawab dengan membisikkan suatu mantra, sambil berpesan agar tidak memberitahukan mantra itu kepada siapa pun juga. Calon murid itu bertanya lagi kepada sang guru, "Apa yang akan terjadi kalau saya memberitahukan mantra ini kepada orang lain". Sang guru menjawab, "Orang yang mendengar mantra ini, hati dan budinya akan tercerahkan. Tetapi engkau sendiri akan diusir dari perguruan ini dan menderita". Sesudah mendengar jawaban sang guru, calon murid itu pergi ke tempat-tempat yang ramai dan memberitahukan mantra itu kepada semua orang yang ia jumpai. Benar, hati dan budi orang-orang yang mendengar mantra itu tercerahkan, wajah mereka menjadi bersinar memancarkan kebahagiaan. Murid- murid yang lain protes dan menuntut agar sang guru mengusir calon murid ini. Kepada mereka sang guru menjawab, "Dia tidak perlu lagi menjadi murid, dia sudah bisa menjadi guru". Pesan dongeng ini jelas : jalan menuju kesempurnaan dan kemuliaan sebagai manusia ialah berbagi kehidupan, kalau perlu dengan berani menanggung risiko. Kita mempunyai yang bukan dongeng, yaitu Yesus ristus yang telah membagikan hidup-Nya bagi damai sejahtera kita. Berarti, dalam diri Yesus-lah kerinduan hati kita yang terdalam terpenuhi. Membangun hidup sehati dan seperasaan dengan Yesus inilah yang kita pupuk secara khusus dalam masa Prapaskah dengan doa yang tekun dan karya-karya kasih.

Marilah kita bersama-sama memasuki masa Prapaskah ini dengan penuh pengharapan dan syukur. Marilah kita gunakan kesempatan pertemuan dan ihan-bahan yang sudah disediakan dengan sebaik-baiknya. Semoga masa :apaskah ini menjadi masa yang penuh rahmat bagi kita masing-masing, bagi keluarga dan komunitas kita. Tuhan memberkati.

Jakarta, 5-6 Maret 2011



+ Ignatius Suharyo

Uskup Keuskupan Agung Jakarta

SURAT GEMBALA PRAPASKA 2011
KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG
Hari Minggu Biasa IX Tahun A/I, Tanggal 5 – 6 Maret 2011

“Orang Katolik Sejati Melakukan Kehendak Bapa”


Saudari-saudaraku yang terkasih,

Rabu Abu menjadi pintu masuk bagi kita semua ke dalam masa Pra Paska, yang dalam tradisi Gereja dijadikan masa untuk “retret agung”. Disebut “retret agung” karena selama 40 hari kita diajak oleh Gereja untuk mengikuti Yesus Tuhan kita semakin dekat, mengenal-Nya semakin dalam, dan mencintai-Nya semakin mesra. Saya anjurkan seluruh umat Katolik sungguh menggunakan masa retret agung untuk keperluan tersebut, secara pribadi maupun bersama, agar iman berkembang semakin mendalam dan tangguh, dan dengan demikian menjadi orang Katolik sejati.

Selama masa Pra Paska 2011 kita diajak untuk merenung, berdoa, dan membicarakannya dalam pertemuan umat dengan tema “Inilah orang Katolik Sejati”. Di manakah terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik? Pada nama baptis Katolik yang dipasang melengkapi nama diri? Tentu tidak. Pada keterangan agama yang kita anut, yang tercantum pada KTP? Tidak juga. Pada cara seruan ketika kita berdoa? Pada kutipan Injil hari ini Tuhan Yesus bersabda, ‘Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 7: 21) Bukan pada cara seruan kita berdoa, tetapi pada rahmat yang memampukan kita melakukan kehendak Bapa di sorga terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik.

Dengan pernyataan tersebut, dapat kita mengerti pula bahwa ‘kekatolikan’ memuat pemahaman tentang iman yang terbuka, bahwa siapa pun yang melakukan kehendak Bapa di sorga dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Katolik merupakan suatu nama yang memuat ajakan agar kita diperkenankan mengalami Allah yang sejati. Pada zaman kita ajakan tersebut menjadi sungguh berat karena kita hidup dalam berbagai arus yang berlawanan secara ekstrim. Ada arus tak peduli pada keberadaan Allah dan perannya bagi keselamatan manusia karena manusia merasa semakin mampu mengusahakan keselamatan sendiri. Ada juga arus fanatisme beragama yang dipeluk oleh orang-orang yang berseru “Tuhan, Tuhan”, namun perilakunya tidak sesuai dengan seruannya, karena merusak milik orang lain, dan bahkan membinasakan kehidupan manusia.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Dalam kehidupan beragama kerap kita jumpai praktek-praktek keagamaan yang tidak selaras dengan pengalaman akan Allah yang sejati, karena bukan Allah yang kita muliakan, melainkan kepentingan diri sendiri yang kita penuhi. Kita beranggapan bahwa pelaku utama keselamatan itu diri manusia, diriku, dan bukan Allah. Dalam seruan kepada Allah, kerap kita berpendapat yang harus terjadi adalah kehendakku, bukan kehendak Bapa yang di sorga. Ranah keagamaan telah kita jadikan tempat berjualan, dan bukan lagi menjadi tempat doa. Kita ciptakan ilah-ilah baru yang muncul dari kepentingan diri kita sendiri untuk memenuhi kepentingan diri kita sendiri pula.

Ketidakberesan dalam ranah keagamaan ini menjadi sumber aliran-aliran arus yang bermuara pada ruang publik yang tuna adab. Intoleransi yang akhir-akhir ini menjadi-jadi, kebohongan publik yang merambah ke setiap sudut ruang kehidupan masyarakat, korupsi, ketidakadilan, kekerasan yang merajalela, bahkan telah masuk dalam keluarga-keluarga kita adalah buah-buah dari hidup keagamaan yang tidak benar, karena yang kita sembah sebenarnya bukan Allah sejati, melainkan ilah-ilah ciptaan kita sendiri.

Permenungan kita mengenai “Inilah orang Katolik sejati” merupakan ajakan pertobatan, agar kita meninggalkan kegelapan untuk masuk dalam terang. Kita buka hati kita agar Roh Kudus, Roh Penasihat, menasihati kita agar menjadi trampil melaksanakan pembedaan roh-roh (Inggris: “discernment of spirits”, Latin “discretio spirituum”). Dalam ulah rohani ini kita kenal langkah-lagkah rohani untuk “necep sabda, neges karsa, ngemban dhawuh”. Langkah-langkah itulah yang dapat kita lakukan untuk mengisi masa Pra Paska kita menjadi masa retret agung.

Dalam langkah “necep sabda”, kita buka telinga kita untuk mendengarkan sabda Allah, yang bersabda melalui Kitab Suci. Sabda itu terasa manis karena meneguhkan perbuatan baik kita, namun sabda itu bisa pahit kalau mengkritik perbuatan salah kita. Seharusnya sebagai orang Katolik sejati kita biarkan daya kekuatan sabda itu mengubah hati kita. Dalam langkah “neges karsa” kita menjajagi apa kehendak Tuhan bagi hidup kita, membeda-bedakan mana kehendak Tuhan, mana kehendak kita; dan kemudian menegaskan bahwa kehendak Tuhanlah yang harus kita utamakan dalam kehidupan kita. Dalam langkah “ngemban dhawuh”, kita bangun kehendak hati dan budi kita karena kita bertekad melaksanakan kehendak Tuhan “ngemban dhawuh Dalem Gusti” dalam kehidupan kita.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Saya yakin, langkah-langkah itu dapat membantu kita menjadi bijaksana untuk mendirikan rumah di atas batu, sebagaimana dikatakan Tuhan, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Mat. 7:24-25).

Sebagai orang Katolik sejati, marilah kita juga bersedia diantar oleh Maria, bunda Allah dan bunda Gereja, kepada Yesus, “per Mariam ad Jesum”. Maria telah menjadi teladan beriman kita. Seluruh hidupnya telah menjadi kesempatan untuk menyimpan segala peristiwa dan merenungkannya dalam hatinya. Setiap kali kita berdoa rosario, dalam sinar peristiwa-peristiwa Tuhan: gembira, terang, sedih dan mulia, kita diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri sebagai peristiwa-peristiwa keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah sendiri.

Allah yang telah memulai pekerjaan-pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6).



Salam, doa dan Berkah Dalem,

Semarang, 25 Februari 2011


+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang
Kamis, 03 Maret 2011
Hari Biasa Pekan VIII

"Kuatkanlah hatimu, berdirilah, Ia memanggil Engkau" (Mrk 10:49b)

Doa Renungan

Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil kami sesuai dengan keunggulan pribadi kami, agar dapat Kau pergunakan menjadi pengantara rahmat dan berkat. Sahabat kamipun meneguhkan kami seperti halnya Bartimeus didukung oleh teman-temannya, "Kuatkanlah hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." Tuhan, kuatkanlah hati kami ketika kami lemah, ragu dan kurang yakin. Sebab Engkaulah Tuhan, Pengantara kami. Amin.

Pembacaan dari Kitab Putra Sirakh (42:15-25)

Dengan kebesaran-Nya la menebalkan awan-awan, dan terpecahlah batu-batu es. Kepada orang-orang-Nya yang kudus Tuhan tidak memberikan kemampuan untuk menceritakan segala buatan-Nya yang mengagumkan, yang telah ditentukan Tuhan alam semesta, supaya jagat raya didukung dengan kemuliaan-Nya. Bagaikan garam embun beku ditaburkan Tuhan, yang menjadi mata duri karena kedinginan. Yang sudah-sudah diberitahukan-Nya dan juga apa yang datang, dan bekas dari apa yang tersembunyipun disingkapkan-Nya. Bertiuplah angin utara yang dingin, dan di atas air terbentuklah es, Duduklah ia di atas setiap kumpulan air yang dilapisi seolah-olah dengan baju zirah. Angin utara menelan gunung-gemunung dan menghanguskan padang gurun, dan perumputan dimakannya seperti nyala api. Semuanya cepat disembuhkan oleh kabut, dan sesudah panas terik semua disegarkan embun. Samudera raya diteduhkan oleh Tuhan dengan pikiran-Nya, dan di dalamnya pulau-pulau ditanam oleh-Nya. Oleh Tuhan maka pesuruh-Nya berhasil, dan karena firman-Nya semuanya rapih teratur. Yang satu menguatkan kebaikan dari yang lain, dan siapa gerangan pernah kenyang-kenyang memandang kemuliaan Tuhan? Kebanggaan langit yang tinggi ialah cakrayala terang-benderang, dan langit kelihatan sebagai tontonan yang mulia.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan.
Ayat. (Mzm 33:2-3.4-5.6-7.8-9)
1. Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya lagu yang baru; petiklah kecapi baik-baik mengiringi sorak dan sorai!
2. Sebab firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
3. Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya diciptakan segala tentara-Nya. Ia mengumpulkan air laut seperti dalam kantung, samudera raya ditaruhnya dalam bejana.
4. Biarlah seluruh bumi takut kepada Tuhan, biarlah segenap penduduk dunia gentar terhadap-Nya! Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 18:12b)
Akulah cahaya dunia. Barangsiapa mengikuti Aku, hidup dalam cahaya abadi.

Iman itu mempunyai kekuatan yang dahsyat. Berkat iman, Bartimeus si buta mmperoleh keselamatan Allah. Ia dapat melihat dan mengalami hidup yang serba baru. Dengan menanggalkan jubahnya, Bartimeus bertekad meninggalkan kehidupan yang lama dan mengenakan hidup yang baru dalam kasih Yesus yang diikutinya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (10:46-52)

"Rabuni, semoga aku dapat melihat."

Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Yerikho. Ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan.Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau."Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!"Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Ada seorang pengemis buta yang selalu datang minta makan dan uang ke sebuah biara. Dia membawa tongkat putih yang bisa dilipat. Berbulan-bulan secara rutin pengemis buta ini datang meminta sedekah dan selalu diberi oleh penghuni biara. Suatu hari, salah seorang biarawan secara kebetulan bertemu si pengemis ini di bus kota. Ternyata si pengemis tidak buta. Biarawan ini tentu saja sangat heran. Karena penasaran, sang biarawan bertanya, ”Maaf, Bapak kan orang buta yang biasa datang mengemis di rumah kami?” Tentu saja orang buta itu terkejut dan malu. Kemudian ia menjawab dengan santai, ”Betul, tapi hari ini saya libur, tidak sedang kerja!”
Bartimeus adalah seorang yang sungguh buta matanya, tidak seperti pengemis buta gadungan itu. Bertahun-tahun Bartimeus tidak dapat melihat apa pun. Dunianya gelap gulita. Ia memang buta, tetapi ia memiliki mata iman yang baik. Dengan mata imannya pula, Bartimeus dapat melihat bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Ia yakin bahwa Yesus dapat melakukan apa pun yang dimintanya. Keyakinan Bartimeus benar adanya. Yesus berkata, ”Imanmu telah menyelamatkan engkau!”
Umumnya kita beruntung karena memiliki mata yang awas, dapat melihat segala sesuatu dengan baik. Lebih beruntung lagi apabila kita memiliki mata iman seperti Bartimeus. Dengan mata iman yang baik, kita menjadi lebih mampu melihat kebaikan orang lain dan lebih-lebih mampu melihat kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

Allah Bapa yang mahabaik, berilah aku iman yang kuat sehingga selalu mampu melihat kebesaran serta kebaikan-Mu dalam hidupku. Amin.

Ziarah Batin 2011, Renungan dan Catatan Harian
Bagikan709

Selasa, 01 Maret 2011

Rabu, 02 Maret 2011
Hari Biasa Pekan VIII

Tujuan kehidupan yang berkebajikan ialah menjadi serupa dengan Allah (St. Gregorius dari Nisa)

Antifon Pembuka

Semoga semua penghuni bumi mengakui, bahwa Engkaulah Tuhan, Allah yang kekal (Sir 36:17)

Doa Pagi

Allah Bapa yang kekal dan kuasa, tambahkanlah semangatku untuk berani memberi kesaksian kepada sesama, bahwa Engkaulah Allah, melalui tingkah lakuku sepanjang hari ini. Amin.

Kemampuan Allah akan melampaui pemikiran manusia. Dalam doa ini terungkap keyakinan manusia yang mendalam bahwa Allah mampu mempersatukan umat beriman yang tercerai berai.

Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh (36:1.4-5a.10-17)

"Penuhilah Sion dengan pujian karena perbuatan-Mu yang perkasa, dan penuhilah bait-Mu dengan kemuliaan-Mu."

Kasihanilah kami, ya Penguasa, Allah semesta alam, pandanglah kami dan curahkanlah kedahsyatan-Mu atas segala bangsa. Hendaklah Engkau membaharui tanda dan mengulang mukjizat, agar para bangsa mengakui, sebagaimana kami telah mengakui, bahwa tiada Allah kecuali Engkau, ya Tuhan. Sudilah mengumpulkan segala suku Yakub serta mengembalikan kepada mereka tanah pusakanya seperti sediakala. Kasihanilah umat yang disebut menurut nama-Mu, yaitu Israel, yang telah Kausamakan dengan anak sulung. Kasihanilah kota-Mu yang kudus, yaitu Yerusalem, kota tempat istirahat-Mu. Penuhilah Sion dengan pujian karena perbuatan-Mu yang perkasa, dan penuhilah bait-Mu dengan kemuliaan-Mu. Berikanlah kesaksian tentang makhluk-makhlukmu yang pada awal mula Kauciptakan, dan penuhilah segala nubuat yang telah dibawakan atas nama-Mu. Berikanlah ganjaran kepada mereka yang menantikan Dikau, dan buktikanlah kebenaran segala nabi-Mu. Ya Tuhan, dengarkanlah doa hamba-hamba-Mu ini sesuai dengan berkat Harun atas umat-Mu. Semoga semua penghuni bumi ini mengakui, bahwa Engkaulah Tuhan, Allah yang kekal.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tunjukkanlah kepada kami, ya Tuhan, cahaya belas kasih-Mu.
Ayat. (Mzm 79:8.9.11.13)
1. Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang! Kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemahlah kami.
2. Demi kemuliaan nama-Mu, tolonglah kami, ya Allah penyelamat! Lepaskanlah kami, dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!
3. Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran tangan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh!
4. Maka kami, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian bagi-Mu turun temurun.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Putera Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua orang.

Apa yang dipikirkan Allah berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh manusia. Misi Yesus akan diselesaikan dengan pelayanan, bukan dengan kekuasaan sebagaimana yang dipikirkan oleh Yakobus dan Yohanes. Keluhuran nama seorang murid Yesus, bukan dalam kekuasaan, melainkan dalam melayani.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (10:32-45)

"Sekarang kita pergi ke Yerusalem, dan Anak Manusia akan diserahkan."

Sekali peristiwa Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Yesus berjalan di depan. Para murid merasa cemas dan orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang pun merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya. Yesus berkata, “Sekarang kita pergi ke Yerusalem, dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Ia akan diolok-olok, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.” Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus. Mereka berkata, “Guru, kami harap Engkau mengabulkan suatu permohonan kami.” Jawab Yesus, “Apakah yang kalian ingin Kuperbuat bagimu?” Mereka menjawab, “Perkenankanlah kami ini duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Kalian tidak tahu apa yang kalian minta. Sanggupkah kalian meminum piala yang harus kuminum? Dan dibaptis dengan pembaptisan yang harus Kuterima?” Mereka menjawab, “Kami sanggup.” Yesus lalu berkata kepada mereka, “Memang, kalian akan meminum piala yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan atau kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya telah disediakan.” Mendengar itu, kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kalian tahu, bahwa orang-orang yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tetapi janganlah demikian di antara kalian! Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kaian, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kalian, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Sebab Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi orang banyak.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.


Renungan

Ambisi untuk mendapatkan suatu jabatan publik bisa saja membuat seseorang menjadi buta. Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, meminta jabatan publik di tengah-tengah pemberitahuan Yesus tentang penderitaan yang akan ditanggung-Nya. Yesus menjelaskan bahwa jabatan publik itu bagaikan suatu piala penderitaan, karena hakikatnya adalah melayani, bukan sebaliknya. Itulah kata kunci aktivitas kristiani.

Doa Malam

Yesus, kerelaan-Mu untuk menjadi manusia dan memberikan nyawa sebagai tebusan bagi banyak orang, mendidik aku untuk rendah hati dan bersedia melayani daripada dilayani. Terimakasih ya Yesus. Amin.
Selasa, 01 Maret 2011
Hari Biasa Pekan VIII

”Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup sepenuhnya (Gloria Dei homo vivens est). - St Ireneus
Doa Renungan
Allah Bapa kami yang mahabaik, siapapun juga yang percaya kepada Yesus Putra-Mu, Kaucurahi Roh Kudus agar hati dan budinya menjadi suci dan murni, dibersihkan dari kuasa kegelapan dan dibebaskan dari kuasa jahat. Tinggallah di hati kami dan perbaharuilah hidup kami agar perbuatan baik dan luhurlah yang kami kerjakan, sehingga kami pun pantas ambil bagian dalam memuliakan nama-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dan dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, sepanjang segala masa. Amin.
Pembacaan dari Kitab Putra Sirakh (35:1-12)

"Tuhan berkenan kepada korban orang benar, dan ingatannya tidak akan dilupakan.”

Barangsiapa memenuhi hukum Taurat mempersembahkan banyak korban, dan orang yang memperhatikan segala perintah menyampaikan korban keselamatan. Orang yang membalas kebaikan mempersembahkan korban sajian dan yang memberikan derma menyampaikan korban syukur. Yang direlai oleh Tuhan ialah menjauhi kejahatan, dan menolak kelaliman merupakan korban penghapus dosa. Jangan tampil di hadirat Tuhan dengan tangan yang kosong, sebab semuanya wajib menurut perintah. Persembahan orang jujur melemaki mezbah, dan harumnya sampai ke hadapan Yang Mahatinggi. Tuhan berkenan kepada korban orang benar, dan ingatannya tidak akan dilupakan. Muliakanlah Tuhan dengan kemurahan, dan buah bungaran di tanganmu janganlah kausedikitkan. Sertakanlah muka yang riang dengan segala pemberianmu, dan bagian sepersepuluh hendaklah kaukuduskan dengan suka hati. Berikanlah kepada Yang Mahatinggi berpadanan dengan apa yang la berikan kepadamu, dengan murah hati dan sesuai dengan hasil tanganmu. Sebab Dia itu Tuhan pembalas, dan engkau akan dibalas-Nya dengan tujuh lipat. Jangan mencoba menyuap Tuhan, sebab tidak diterima-Nya, dan janganlah percaya pada korban kelaliman! Sebab Tuhan adalah Hakim, yang tidak memihak.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Orang yang jujur jalannya, akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah.
Ayat. (
Mzm 50:5-6.7-8.14.23)
1. ”Bawalah ke mari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Daku, perjanjian yang dikukuhkan dengan kurban sembelihan!” Maka langit memberitakan keadilan-Nya: Allah sendirilah Hakim!
2. ”Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman! Dengarkanlah, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu! Bukan karena kurban sembelihan engkau Kuhukum, sebab kurban bakaranmu senantiasa ada di hadapan-Ku!
3. Persembahkanlah syukur sebagai kurban kepada Allah, dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi. Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai kurban, ia memuliakan Daku; dan siapa yang jujur jalannya, akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat.
Terpujilah Engkau Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (10:28-31)

"Sekalipun disertai penganiayaan, pada masa ini juga kalian akan menerima kembali seratus kali lipat dan di masa datang menerima hidup yang kekal."

Setelah Yesus berkata betapa sukarnya orang kaya masuk Kerajaan Allah, berkatalah Petrus kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau.” Maka Yesus menjawab, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, barangsiapa meninggalkan rumah, saudara-saudari, ibu atau bapa, anak-anak atau ladangnya, pada masa ini juga ia akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak-anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan; dan di masa datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan
Sebelum naik mobil, si bungsu bertanya dengan lugu, "Kak, kapan pulang dan main petak umpet lagi denganku? Dedek tunggu ya....." Aliaran air mata hangat bergulir di kedua belah pipi Boni. Ia tak kuasa menjawab adiknya. Mobil tua itu bergerak perlahan meninggalkan gerbang seminari. Boni melambaikan tangan pada keluarga yang dicintainya. Dalam hatinya terucap doa, "Yesus, inilah aku, untuk_mu. Kuserahkan keluargaku, seluruhnya juga bagi-Mu." Sepuluh tahun berlalu. Sore itu Boni melangkahkan kaki ke altar kudus untuk menerma tahbisan suci. Setelah tahbisan yang agung itu, dia mendapat banyak salam hangat dari para pembimbing di seminari yang sudah menjadi seperti ayahnya, dari para suster pengelola rumah tangga yang bak ibu yang memperlihatkan dan mengasihinya, juga dari para frater yang sudah seperti adik-adiknya. Teman-teman lama dan baru juga berdatangan. Dengan wajah berseri semua hadir untuk memberi selamat. Setelah semua salam mereda, dilihatnya di ujung Gereja, orang tuanya, neneknya, kakak dan adiknya, juga si bungsu Dedek, yang kini sudah menjadi remaja tampan. Mereka menunggunya. Segera Boni berlari ke pelukan hangat dan penuh kasih dari orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Mereka masih ada di sana, dan masih ada banyak lagi yang lain. Janji Yesus dalam Injil hari ini bukanlah teori kosong, tapi janji yang nyata. Mereka yang meninggalkan orang dan milik yang dikasihinya demi Yesus, akan menerima seratus kali lipat sekarang ini dan kelak akan menerima kehidupan kekal. Ini bukan berarti kita diajak untuk bermental barter. "aku memberi, engkau pun harus memberi." Bukan. yesus mau menunjukkan bahwa rahmat Allah lebih berlimpah daripada apa yang kita korbankan. Boni mengorbankan keluarganya, namun dia mendapat kembali lebih banyak anggota, dan keluarganya tetap ada bersama dia. Kita mesti berani berkorban bagi Allah seperti Boni. Sering kali kita takut kehilangan segala-galanya. Jika kita takut apa yang kita "miliki" akan tetap terbatas, namun jika berani demi Yesus, kita akan "memiliki" lebih banyak. Santo Yohanes dari Salib mengajar, "Untuk memiliki SEGALA, kita harus berani meninggalkan segala." Tuhan Yesus, jadikanlah hidupku menjadi pancaran kemuliaan-Mu dan kemuliaan Bapa di surga. Amin.

Oase Rohani 2011, Renungan dan Catatan Harian