Maria Ratu Damai

Maria Ratu Damai

Sabtu, 13 Juli 2019

Keluarga dan Lingkungan

Romo Apol. (Foto : dr. Djoni)
Oleh : RD. Apolonius Basuki

Saya pernah mendengarkan cerita seorang ketua lingkungan yang merasa bahagia karena semenjak lingkungannya dimekarkan menjadi 2 lingkungan oleh romo parokinya, umatnya banyak yang aktif dan mau mengambil bagian dalam kehidupan lingkungan dan paroki. Dahulu ketika masih 1 lingkungan dengan jumlah 100 Kepala keluarga, banyak umat yang pasif, tidak terlibat di lingkungan, bahkan ketika rumahnya menjadi tempat doa lingkungan, mereka tidak mau dengan alasan malu karena rumahnya kecil.

Ketua lingkungan tersebut sungguh menjadi gembala bagi lingkungannya dan bersama romo parokinya berencana 3 tahun lagi akan memekarkan lingkungannya menjadi 2 lingkungan agar lingkungannya terdiri dari 25 Kepala keluarga sehingga semakin banyak lagi umat yang berpartisipasi aktif dalam kehidupan lingkungan dan paroki. Beberapa kesulitan tentu sudah di depan mata. Misalnya, siapa yang mau menjadi ketua lingkungan, bendahara, sekretaris, dan seksi - seksi serta batas – batas geografinya.

Paroki teritorial berdasarkan pada wilayah geografi baik gerejani ataupun sipil.Dalam paroki pada umumnya adastasi, dalam stasi adalingkungan. Dan lingkungan terdiri dari beberapa kepala keluarga. Kepala Keluarga bersama anggotanya membentuk lingkungan, yang anggota – anggotanya saling penuh kasih persuadaraan, mendukung, dan menguatkan dalam kebersamaan sebagai orang beriman dan sesama manusia.

Lingkungan yang ideal menurut saya terdiri dari 15 – 30 Kepala keluarga. Meskipun sedikit tetapi anggota – nggotanya aktif dan kreatif untuk memajukan lingkungannya. Kalau ada lingkungan yang terdiri dari lebih 100 kepala keluargaakan mengalami kesulitan kalau ada doa atau kegiatan lingkungan yang diadakan dari rumah ke rumah.Misalnya, ada anggota lingkungan yang rumahnya tidak bisa menampung jumlah semua anggota lingkungannya.

Lingkungan yang banyak kepala keluarga kadang sulit dimekarkan menjadi lingkungan baru dengan berbagai alasan. Misalnya sudah terlanjur akrab, tetapi menurut saya akar persoalannya adalah adanya orang yang ingin bercokol menjadi ketua lingkungan seumur hidup dan umatnya sendirisangat malas dan pasif, tidak mau belajar, bertumbuh, berkembang, dan berbuah. Sebenarnya dimana ada kemauan, di situ ada jalan.

Ketua Lingkungan mestinya mau diganti tidak menjabat 3 periode berturut – turut, seperti seorang ayah atau ibu dalam keluarga yang baik akan bangga kalau anak – anaknya berprestasi, bertanggung jawab, mandiri, dan dewasa. Begitu pun ketua lingkungan kalau ada anggota jemaatnya yang menggantikannya dan berprestasi ikut bangga dan berbahagia, tidak merasa terancamdan minder. Kita diajak untuk membuka diri untuk pertumbuhan dan kebaikan bersama. Jangan menjadi manusia yang tertutup dan nyaman dalam kemapanan.

Keluarga katolik dipanggil untuk hidup mengereja, salah satunya terlibat aktif dalam kehidupan lingkungan, baik lingkungan Gereja atau pun masyarakat. Keluarga dan Lingkungan bagaikan dua sisi mata uang. Tidak ada lingkungan tanpa keluarga, tidak ada keluarga tanpa lingkungan.Kalau setiap lingkungan terdiri dari keluarga yang baik, aktif, dan rukun maka hal tersebut berdampak pada lingkungan Gereja dan masyarakat.***

Senin, 18 Februari 2019

Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung dan Yayasan Insan Damai Gelar Bakti Sosial Donor Darah

Bakti sosial berupa donor darah di Gereja Paroki Maria Ratu Damai Bandar Lampung di halaman parkir GSG setempat, 

RATUDAMAI.BLOGSPOT.com – Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung dan Yayasan Insan Damai adakan bakti sosial berupa donor darah. Palang Merah Indonesia (PMI) dan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Santa Anna Bandar Lampung turut digandeng pada aksi kemanusian tersebut.

Bakti sosial berupa donor darah ini berlangsung di dua tempat sekaligus dalam waktu yang bersamaan, yakni : di Gereja Maria Ratu Damai Teluk Betung dan Gereja Santo Petrus Panjang. Bakti sosial masing-masing diadakan di halaman gereja setempat.

“Kita ada adakan dua tempat sekaligus karena waktu startnya terlambat di Teluk dan di Panjang,” jelas Ketua Yayasan Insan Damai, Adreanus Budi Jaya di Bandar Lampung, Senin, 18 Februari 2019, seperti dikutip dari suarawajarfm.com.

Kepala Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung, RD Apolonius Basuki turut mendonorkan darahnya pada bakti sosial tersebut.
Menurut Budi Jaya, dari dua kegiatan donor darah di dua tempat tersebut berhasil terkumpul 261 kantong darah. “Peminat yang daftar di Teluk 190-an yang berhasil diambil 159 kantong. Kemudian untuk peminat yang daftar di Panjang 200-an yang berhasil diambil 102 kantong,” jelasnya.

Ketua Yayasan Insan Damai mengatakan dengan diadakan kegiatan donor darah, diharap mampu menggugah masyarakat, khususnya umat Katolik di Paroki Maria Ratu Damai untuk selalu berbagi.

“Agar lingkungan kita semakin menyadari bahwa donor darah itu banyak berguna bagi kita dan orang lain. Selain itu, agar di lingkungan kita khususnya daerah Stasi Teluk dan Panjang mudah mendapatkan permintaan darah jika membutuhkan,” pungkasnya.

Budi Jaya menginformasikan bagi umat Katolik khususnya yang berdomisili di Paroki Maria Ratu Damai jika membutuhkan darah bisa dengan gratis mendapatkan di PMI dengan mengatasnamakan Yayasan Insan Damai.

“Yayasan sudah terdaftar di PMI sebagai penyelenggara donor darah di awal tahun 2018. Jadi jika ada yang membutuhkan darah di lingkungan kita dengan mengatasnamakan yayasan (Insan Damai) akan bebas biaya,” tutup Budi Jaya.

Nampak terlihat, tidak hanya umat Katolik yang berpartisipasi pada bakti sosial ini, terlihat juga banyak masyakat umum turut mendonorkan darahnya di Panjang, Bandar Lampung.
Sementara itu, Pastor Kepala Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung, RD Apolonius Basuki mengatakan kegiatan donor darah adalah kegiatan sosial kemanusian yang juga sebagai ungkapan iman.

“Kita tahu darah adalah bagian sangat penting bagi kehidupan manusia. Harapan saya semoga kerjasama tersebut bisa terus dilanjutkan dan semakin banyak orang terlibat,” kata Romo Apol singkat saat dihubungi terpisah di Bandar Lampung, Senin, 18 Februari 2019.

Asal tahu saja, tidak hanya umat Katolik yang berpartisipasi pada bakti sosial ini, terlihat juga banyak masyakat umum turut mendonorkan darahnya.

Nampak turut mendonorkan darahnya, presenter TvOne, Brigita Manohara yang juga calon anggota DPR RI daerah pemilihan Lampung 1 dari PDI Perjuangan.***

Editor : Robert 


Kamis, 31 Januari 2019

124 Peserta Belajar Bersama Tentang Pekan Suci di Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung Bandar Lampung

Pastor Kepala Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung Bandar Lampung, RD Apolonius Basuki saat mendampingi peserta.

RATUDAMAI.BLOGSPOT.Com – 124 peserta antusias mengikuti kegiatan yang diberi judul “Belajar Bersama Tentang Pekan Suci” di Gedung Serba Guna Maria Ratu Damai, Teluk Betung, Bandar Lampung pada Minggu, 27 Januari 2019.

Peserta terdiri dari utusan lingkungan stasi Telukbetung dan Panjang berupa petugas-petugas liturgi, ketua lingkungan dan umat pemerhati liturgi.

Pastor Kepala Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung Bandar Lampung, RD Apolonius Basuki berpesan pada peserta untuk bersungguh-sungguh dalam mengikuti acara.

“Bertanyalah dengan pertanyaan yang cerdas, jangan bodoh, maksudnya fokus pada materi. Karena materi yang akan dibahas adalah inti sumber iman kita yaitu sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Dari situlah mengalir liturgi harian, pesta dan perayaan terutama liturgi hari Minggu,” katanya saat membuka acara.

Romo Apol berharap seusai mengikuti acara ini, para peserta dapat benar-benar menghayati perayaan liturgi.

“Saya menunggu buah-buahnya dalam perayaan liturgi dan berharap liturgi sungguh-sungguh perayaan, bukan beban yang harus diatur begini begitu tetapi sebuah kegembiraan. Liturgi adalah doa kita yang paling agung,” pungkasnya.

Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Tanjungkarang RD Petrus Tripomo (kiri)
Sementara itu narasumber utama pada acara Belajar Bersama Tentang Pekan Suci, RD Petrus Tripomo mengatakan kegiatan ini diadakan agar umat dapat lebih memahami dan menghayati misteri penebusan yang setiap tahun dirayakan.

Lulusan Institut Pontifical San Anselmo di Roma, Italia ini mengajak peserta untuk belajar dari buku Perayaan Paskah dan Persiapannya atau Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis.

“Kita akan belajar bersama melalui buku ini, yang mana berisi tentang persiapan dan perayaan dari Masa Prapaskah sampai Masa Paskah,” kata Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Tanjungkarang ini saat memulai pemaparan materi.

Para peserta "Belajar Bersama Tentang Pekan Suci”
Para peserta mengikuti pertemuan ini dengan antusias. Pertanyaan-pertanyan seputar materi silih berganti dilontarkan. Keberagaman kelompok umur menambah semarak pertemuan, bukan hanya kaum dewasa saja tetapi kaum muda dan bahkan remaja dengan setia mengikuti sampai akhir kegiatan.

Banyak hal-hal yang dapat dipelajari dan dimengerti atau bahkan baru tahu, misalnya: Pada Minggu Prapaskah I lagu pembuka dapat diganti dengan Litani Para Kudus atau nantinya sebutan Masa Prapaskah akan menjadi Masa empat puluh hari.

Salah satu peserta, St. Hadi Atmaja, berharap agar kegiatan yang mempelajari seputar liturgi dapat dilanjutkan pada kemudian hari.
 
“Dengan belajar liturgi adalah cara kami untuk mengenal Kristus secara lebih mendalam dan mengarahkan umat untuk menjadi orang katolik yang militan,” kata Hadi yang juga merupakan Ketua Stasi Panjang ini.

Dari stasi Panjang menurut Hadi, mengutus banyak kaum muda, dengan harapan dapat ber-litugi dengan baik sedini mungkin dan menerapkannya dalam perayaan Ekaristi.

“Sehingga harapan besarnya dapat terwujud puncak dan sumber hidup kaum muda,” tutup Hadi.***

Penulis : Ancilla Cucu Lukman Ali

Editor   : Robert

Jumat, 18 Januari 2019

Romo Apol : Generasi Hebat Adalah Generasi Yang Beriman dan Menjadi Manusia Dewasa


Pastor Kepala Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung, RD Apolonius Basuki 
PAROKI MARIA RATU DAMAI TELUK BETUNG – Bina Iman Anak (BIA) Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung menggelar perayaan Natal dan Tahun Baru 2019 pada Minggu, 13 Januari 2019.  

Pastor Kepala Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung, RD Apolonius Basuki mengatakan dalam rangka merayakan Natal juga merayakan tahun buah bungaran dan persembahan anak sulung, kita diajak memperlakukan anak-anak bagaikan anak sulung.

“Kita juga diajak mempersiapkan generasi hebat dari keluarga hebat. Generasi hebat adalah generasi yang beriman dan menjadi manusia dewasa,” kata Romo Apol – panggilan akrab RD Apolonius Basuki, saat dihubungi terpisah pada Jumat, 18 Januari 2019.

Salah satu caranya lanjut Romo Kepala Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung ini, adalah dengan perayaan Natal khusus anak-anak.

“Selama tahun persambahan anak sulung ini saya berjanji tidak akan marah ama anak anak. Kita tidak boleh membuat anak anak terluka karena perlakuan kita. Dan fokus pastoral kita adalah lebih memperhatikan anak-anak dari Sekolah Minggu, Bina Iman Anak Remaja dan OMK,” pungkas Romo Apol.

Pastor Kepala Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung, RD Apolonius Basuki bersama anak-anak BIA dan panitia usai perayaan Natal dan Tahun Baru 2019, Minggu, 13 Januari 2019.
Sebagaimana diketahui, perayaan Natal dan Tahun Baru 2019  BIA dimulai pada pukul 08.30 WIB di GSG lantai 2 Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung, Bandar Lampung pada Minggu, 13 Januari 2019.

Seperti dikutip dari Suarawajarfm.com, perayaan dibuka dengan doa oleh Pendamping BIA, Sr. Hedwigis, HK. Menyanyikan lagu-lagu Natal secara bersama-sama mendominasi perayaan Natal ini. Acara juga diisi oleh penampilan yang menghibur seperti musikalisasi puisi, persembahan pujian, dancing, serta drama Natal.

Panitia Perayaan Natal dan Tabun Baru 2019 BIA Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung, Bandar Lampung.

"Natal merupakan momen penting karena kita menyambut kelahiran Yesus Kristus sehingga kita perlu merayakannya dengan penuh sukacita," kata Koordinator BIA Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung, Maria Yoseva Sihotang.***

Penulis : Onisa Nainggolan

Editor    : Robert

Sabtu, 08 Desember 2018

Nutrisi Bagi Jiwa : Sabtu, 8 Desember 2018


Bunda Maria. Credit: berjalan-bersama-mu.blogspot.com
Lukas 1:26-38
H.R.Santa Perawan dikandung Tanpa Noda

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu."

Pesan dan makna Firman Tuhan bagi peziarahan jiwa hari ini :

Viat Bunda Maria :" Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu" adalah buah pergumulan rohani yang  panjang.

Viat Maria adalah juga menjadi viat kita.

Viat ini menjadi dasar bangunan rohani bagi kita dalam menapaki dan menjalani hari-hari hidup yang banyak pernik dan warna serta syarat  misteri dengan  penuh sukacita dan harapan besar.

Tanggapan- jawaban kita atas tawaran kasih Tuhan berimplikasi pada kesetiaan, komitmen dan keterarahan hidup hanya padaNya.
Pada FirmanNya, pada kehendakNya, pada jalan -jalan yang ditunjukkanNya, pada apa yang Tuhan mau.

Dengan viat sebagaimana yang dimiliki Maria, kita diajak untuk selalu  membaca peristiwa dan pengalaman dalam perspektif iman. Dan Tuhan mempunyai rencana besar dalam setiap pribadi yang memberikan tanggapan atas tawarann kasihNya dan Dia menyediakan rahmat yang kita butuhkan.

Yang dituntut dari kita adalah sikap mau membuka hati untuk mendengarkan FirmanNya dan melaksanakannya, memberikan diri secara total sebagai instrumen kasihNya, dan merendahkan hati di hadapanNya, seperti Maria dan juga PutraNya terkasih, Yesus Kristus.

Semua adalah demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesama.
                 
Buah keheningan dalam diam konstan.
Romo Roy

Jumat, 07 Desember 2018

Nutrisi bagi Jiwa Jumat 7 Des 2018

Romo Roy. Foto : IG @phillipussuroyo

Mateus 9 : 27-31
Dua Orang Buta disembuhkan Yesus

Sekali peristiwa ada dua orang buta mengikuti Yesus sambil berseru-seru, "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah datanglah kedua orang itu kepadanya. Yesus berkata kepada mereka, "Percayakah kalian bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab, "Ya Tuhan, kami percaya."Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata, "Terjadilah padamu menurut imanmu." Lalu meleklah mata mereka.Lalu dengan tegas Yesus berpesan mereka , "Jagalah jangan seorangpun mengetahui hal ini."  Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Yesus ke seluruh daerah itu.

Pesan dan makna Firman Tuhan bagi pezirahan batin kita hari ini:

1. Hidup ini adalah sebuah pencarian panjang untuk menemukan, mengalami dan merasakan kasih setia Tuhan dalam hidup. Terlebih dikala saat sulit menghapiri hidup kita.
Bila kita sungguh percaya, terus berjuang dengan kasih dan harapan besar, maka kita akan diperkenankan melihat kemuliaan Tuhan, mengalami dan merasakan bahwa kasih, kuasa dan mukjijat Tuhan itu nyata. "Terjadilah padamu, menurut imannmu."

2. Semakin banyak tantangan, kesulitan dan masalah dalam kehidupan semakin keras kita berseru minta tolong pada Tuhan. "Kasihanilah kami, hai Anak Daud."
Seperti yang terjadi dalam diri dua orang buta.

3. Seperti dua orang buta, kita diajak untuk fokus pada Yesus bahwa dalam diriNya ada kekuatan dan kuasa Ilahi yang menyembuhkan dan membebaskan. Bukan fokus pada diri dan pada masalah yang sedang menimpa.
Fokus pada Yesus membuat kita mampu menghadapi masalah dan keluar dari masalah. Sedangkan fokus pada masalah dan diri sendiri membuat masalah menjadi berat dan menimbulkan masalah baru.

4. Seperti disposisi hati dalam diri kedua orang buta, kita diajak untuk selalu membuka hati dan membiarkan Tuhan bekerja dengan caraNya dan bukan dengan cara kita.Supaya rahmatNya bekerja secara leluasa dalam diri kita.

Selamat memasuki hari baru dengan penuh iman, harapan yang besar dan kasih tulus.
Semua adalah demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesama.
Berkah dalem.***

Buah keheningan. Dalam diam konstan.
Oleh : Romo Roy

Senin, 03 Desember 2018

Puluhan Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung bekunjung ke Gereja Katolik Maria Ratu Damai Teluk Betung


Para mahasiswa dari Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Raden Intan Lampung di dalam Gereja Maria Ratu Damai Teluk Betung, Bandar Lampung, Sabtu, 01 Desember 2018. Foto : Romo Roy
Ratudamaiblogspot.com – Beragam cara untuk merawat persaudaraan sejati antara sesama walau latar belakang agama berbeda. Salah satu contoh yang dilakukan 30 Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung pada Sabtu, 01 Desember 2018. Mereka berkunjung ke Gereja Maria Ratu Damai Teluk Betung Bandar Lampung untuk mengikuti Seminar Lintas Agama “Merawat Persaudaraan Sejati.”

Rombongan dipimpin Dosen Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Raden Intan Lampung, Dr Sudarman MAg ini disambut hangat Romo Kepala Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung RD. Apolonius Basuki dan Ketua Komis Kerawam dan HAK Kesukupan Tanjungkarang RD. Philipus Suroyo.

Turut menyambut kedatangan para mahasiswa diantaranya; Orang Muda Katolik (OMK) paroki setempat, WKRI, PMKRI, Pemuda Katolik dan sejumlah anggota Komisi Kerawam dan HAK Kesukupan Tanjungkarang. Selain itu, Suster-suster perwakilan dari Biara Fransiskanes dari St. Georgius Martir (FSGM), Biara Belaskasih dari Hati Yesus yang Mahakudus (HK) dan Biara Carolus Borromeus (CB). Keakraban begitu kental terasa dari pagi sampai siang berlangsungnya seminar tersebut.

Usai acara, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Raden Intan Lampung, Dr Sudarman Mag, mengutarakan maksud dan tujuannya kunjungan ke Gereja Maria Ratu Damai Teluk Betung Bandar Lampung. 

“Kami dari Prodi Studi Agama-agama UIN Raden Intan Lampung, sengaja berkunjung ke Paroki Ratu Damai di Teluk Betung ini, membawa 30 mahasiswa dalam rangka anjangsana untuk sama-sama belajar tentang kehidupan, kearifan, kebijaksanaan, hidup bersama secara damai,” kata Dr Sudarman.

Ketua Komisi Kerawam dan HAK Keuskupan Tanjungkarang RD Philipus Suroyo yang juga Pstor rekan di Paroki Ratu Damai Teluk Betung, bersama mahasiswa UIN Raden Intan Lampung di Goa Maria.
Menurutnya dengan kunjungan ini diharapkan terpupuk persaudaraan sejati yang selama ini telah terjalin dengan baik, mengacu pada kerukunan antar umat beragama di Bumi Lampung.

“Tentu tujuan utama yang akan kami inginkan bahwa timbul persaudaraan sejati, diantara kita umat manusia apapun agamanya,” terang Dr. Sudarman.
Sudarman membeberkan tidak hanya komunitas Katolik saja yang dikunjungi, melainkan komunitas agama lainnya di Lampung.

“Kalau hari ini kami berkunjung ke komunitas Katolik, kami juga berkunjung ke komunitas-komunitas lain, Hindu, Budha, Kristen dan lain-lain. Tujuannya supaya sesama rakyat dan Bangsa Indonesia, merajut kebersamaan, meyerukan perdamaian dan sama-sama hidup rukun, harmonis di tengah-tengah masyarakat,” pungkasnya.

Romo Kepala Paroki Maria Ratu Damai Teluk Betung RD Apolonius Basuki merasa bangga dan bersyukur di tengah situasi derasnya radikalisme, namun kunungan mahasiswa IAN ke Gereja Katolik sebagai “angin sejuk.”

“Saya bangga dan bahagia, ternyata di tengah derasnya arus radikalisme, kita masih bisa berjumpa, berbicara dan bekerja sama, sharing iman dan kehidupan, semoga perjumpaan seperti kemarin bisa dilanjutkan terus,” kata Romo Apol sumringah.

Sementata itu, Ketua Komisi Kerawam dan HAK Keuskupan Tanjungkarang RD Philipus Suroyo memiliki harapan besar terkait kunjungan dan seminar Seminar Lintas Agama Merawat Persaudaraan Sejati.

“Dengan digelarnya seminar ini supaya dapat terbangun sebuh persepsi, gagasan yang sama bahwa di luar agama entah agama apapun itu ada kebenaran, keselataman serta nilai-nilai kebaikan. Dengan demikian kita bisa duduk berdampingan dengan rukun, “ kata Romo Roy.

Para peserta mengikuti Seminar Lintas Agama “Merawat Persaudaraan Sejati," di Aula GSG Paroki Ratu Damai Teluk Betung, Bandar Lampung, Sabtu, 01 Desember 2018.
Romo Roy juga berharap pada seluruh peserta seminar baik mahasiswa UIN Raden Intan Lampung dan dari lingkungan gereja untuk menjadi duta kerukunan. “Semoga mereka menjadi duta damai dan kerukunan dan menjadi duta persaudaraan,” pungkasnya.

Salah satu perwakilan mahasiswa UIN Raden Intan Lampung, Nurlela Sari menyatakan kesannya usai mengunjungi Gereja Katolik Maria Ratu Damai dan menerukan toleransi antar umat beragama.

“Setelah mengikuti acara ini kita saya pribadi merasa rasa toleransi lebih terpupuk lagi kepada umat lain. Terimakasih pada pihak kampus dan pihak gereja yang sudah memberikan kesempatan pada kami untuk belajar, terutama belajar merawat persaudaraan sejati,” kata mahasiwa Fakultas Ushuluddin Studi Agama-agama semester V ini.***

Penulis : Robertus Bejo