Maria Ratu Damai

Maria Ratu Damai
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juli 2019

Kehadiran Allah Dalam Sesama

Romo Apol pada kegaitan “Seminar Hidup Baru Dalam Roh” belum lama ini di Ngison Nando, Kalianda, Lampung Selatan. 
Banyak orang datang silih berganti dalam hari-hari hidup kita. Ada yang membawa kegembiraan, keceriaan, kedamaian. Ada pula yang membawa kesedihan, kekecewaan, kemarahan. Namun, banyak yang hanya numpang lewat. Siapakah di antara mereka yang menjadi sesama kita? Atau, sudahkah kita menjadi sesama bagi mereka?

Ketika sedang menghadapi masalah yang berat, tiba-tiba seorang teman lama menelpon dan menanyakan kabar kita. Dia datang membawa penyelesaian bagi masalah yang dihadapi. Ketika sedih, seseorang yang tidak dikenal mendekati dan menunjukkan empati serta memberikan hiburan. Atau, ketika kita didorong untuk memberikan sepotong roti kepada seseorang yang duduk di bangku di pinggir jalan, ternyata dia sudah tiga hari tidak makan. Masih banyak lagi peristiwa yang kita alami yang menunjukkan kasih Allah yang bekerja dalam hidup kita.

Allah yang Maharahim dan penuh belaskasih, mau menyatakan kehadiran-Nya di dunia ini. Dia selalu mau menyapa siapa saja yang hatinya terbuka untuk menerima kasih-Nya. Allah rindu untuk memakai setiap orang menjadi saluran kasih dan kerahiman-Nya. Ia ingin agar kita menjadi sesama bagi orang yang kita jumpai. Allah memanggil kita untuk menampakkan belaskasih dan kerahiman-Nya di dunia ini.

Adakah tempat di hati Anda untuk belaskasih dan kerahiman Tuhan? Bila ada, bukalah hati Anda dan biarkanlah Tuhan membuat dirimu menjadi sesama bagi orang lain.***(Frater-Frater Seminari Tinggi St. Petrus – Lentera Batin).

Sabtu, 08 Desember 2018

Nutrisi Bagi Jiwa : Sabtu, 8 Desember 2018


Bunda Maria. Credit: berjalan-bersama-mu.blogspot.com
Lukas 1:26-38
H.R.Santa Perawan dikandung Tanpa Noda

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu."

Pesan dan makna Firman Tuhan bagi peziarahan jiwa hari ini :

Viat Bunda Maria :" Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu" adalah buah pergumulan rohani yang  panjang.

Viat Maria adalah juga menjadi viat kita.

Viat ini menjadi dasar bangunan rohani bagi kita dalam menapaki dan menjalani hari-hari hidup yang banyak pernik dan warna serta syarat  misteri dengan  penuh sukacita dan harapan besar.

Tanggapan- jawaban kita atas tawaran kasih Tuhan berimplikasi pada kesetiaan, komitmen dan keterarahan hidup hanya padaNya.
Pada FirmanNya, pada kehendakNya, pada jalan -jalan yang ditunjukkanNya, pada apa yang Tuhan mau.

Dengan viat sebagaimana yang dimiliki Maria, kita diajak untuk selalu  membaca peristiwa dan pengalaman dalam perspektif iman. Dan Tuhan mempunyai rencana besar dalam setiap pribadi yang memberikan tanggapan atas tawarann kasihNya dan Dia menyediakan rahmat yang kita butuhkan.

Yang dituntut dari kita adalah sikap mau membuka hati untuk mendengarkan FirmanNya dan melaksanakannya, memberikan diri secara total sebagai instrumen kasihNya, dan merendahkan hati di hadapanNya, seperti Maria dan juga PutraNya terkasih, Yesus Kristus.

Semua adalah demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesama.
                 
Buah keheningan dalam diam konstan.
Romo Roy

Jumat, 07 Desember 2018

Nutrisi bagi Jiwa Jumat 7 Des 2018

Romo Roy. Foto : IG @phillipussuroyo

Mateus 9 : 27-31
Dua Orang Buta disembuhkan Yesus

Sekali peristiwa ada dua orang buta mengikuti Yesus sambil berseru-seru, "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah datanglah kedua orang itu kepadanya. Yesus berkata kepada mereka, "Percayakah kalian bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab, "Ya Tuhan, kami percaya."Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata, "Terjadilah padamu menurut imanmu." Lalu meleklah mata mereka.Lalu dengan tegas Yesus berpesan mereka , "Jagalah jangan seorangpun mengetahui hal ini."  Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Yesus ke seluruh daerah itu.

Pesan dan makna Firman Tuhan bagi pezirahan batin kita hari ini:

1. Hidup ini adalah sebuah pencarian panjang untuk menemukan, mengalami dan merasakan kasih setia Tuhan dalam hidup. Terlebih dikala saat sulit menghapiri hidup kita.
Bila kita sungguh percaya, terus berjuang dengan kasih dan harapan besar, maka kita akan diperkenankan melihat kemuliaan Tuhan, mengalami dan merasakan bahwa kasih, kuasa dan mukjijat Tuhan itu nyata. "Terjadilah padamu, menurut imannmu."

2. Semakin banyak tantangan, kesulitan dan masalah dalam kehidupan semakin keras kita berseru minta tolong pada Tuhan. "Kasihanilah kami, hai Anak Daud."
Seperti yang terjadi dalam diri dua orang buta.

3. Seperti dua orang buta, kita diajak untuk fokus pada Yesus bahwa dalam diriNya ada kekuatan dan kuasa Ilahi yang menyembuhkan dan membebaskan. Bukan fokus pada diri dan pada masalah yang sedang menimpa.
Fokus pada Yesus membuat kita mampu menghadapi masalah dan keluar dari masalah. Sedangkan fokus pada masalah dan diri sendiri membuat masalah menjadi berat dan menimbulkan masalah baru.

4. Seperti disposisi hati dalam diri kedua orang buta, kita diajak untuk selalu membuka hati dan membiarkan Tuhan bekerja dengan caraNya dan bukan dengan cara kita.Supaya rahmatNya bekerja secara leluasa dalam diri kita.

Selamat memasuki hari baru dengan penuh iman, harapan yang besar dan kasih tulus.
Semua adalah demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesama.
Berkah dalem.***

Buah keheningan. Dalam diam konstan.
Oleh : Romo Roy

Sabtu, 17 Januari 2015

Renungan Minggu biasa II/B



Minggu biasa II, tahun B

Bacaan I: 1Sam. 3:3b-10.19
Berisi tentang panggilan Samuel yang dikira Eli yang memanggilnya. “Bersabdalah Tuhan, hamba-Mu mendengarkan”, menjadi tanggapan Samuel atas panggilan Allah.

Bacaan II: 1Kor. 6: 13c15a.17-20
Berisi tentang nasihat Paulus bahwa orang yang percaya kepada Yesus diangkat menjadi tubuh mistik Kristus dan harus menghormati tubuhnya sebagai bait Roh Kudus. Dengan demikian, orang harus memperlakukan tubuh untuk memuliakan Allah, bukan justru menodai tubuh dengan perbuatan dosa.

Bacaan Injil: Yoh. 1:35-42
Kutipan Injil ini berisi tentang panggilan Yesus kepada murid-murid-Nya yang pertama. Kisah yang tersaji dalam Injil Yohanes ini memiliki perbedaan dengan kisah panggilan Yesus dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas). Perbedaan setting tempat (Betania dan Galilea/Genesaret) tidak menjadi persoalan karena di kedua tempat ini pastilah pernah dikunjungi Yesus ketika memanggil murid-murid-Nya. Kedua tempat itu juga masih berada di sekitar danau Galilea. Seturut maksud penulisan Injil Yohanes, Yesus, Sang Mesias adalah Sosok utama untuk menyelamatkan manusia. Mesias yang berasal dari Bapa harus lebih utama dari segala nabi dan guru, termasuk juga Yohanes Pembaptis.
“Lihatlah Anak domba Allah!” (ay.36) merupakan pengulangan dari kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus yang dibaptisnya di sungai Yordan (ay.29). Pengulangan kesaksian ini menghendaki efek bagi murid-murid Yohanes Pembaptis. Efek dari kesaksian itu adalah murid-murid Yohanes mengikuti Yesus. Yohanes Pembaptis mendorong kedua muridnya (Andreas dan Simon) untuk menjadi pengikut dan murid Yesus, Sang Mesias. Dalam hal ini, penginjil ingin agar label murid Yohanes Pembaptis digantikan dengan label murid Yesus. Memang demikian hendaknya, kerena Yohanes Pembaptis bertugas mempersiapkan bagi kedatangan Yesus, Sang Mesias. Karya Yesus sekaligus mengakhiri karya pewartaan Yohanes Pembaptis.
Tindakan aktif murid-murid Yohanes yang mengikuti Yesus menjadi pembeda pula dengan kisah dalam Injil Sinoptik. Dalam Injil Sinoptik, Yesuslah yang lebih aktif menjumpai dan memanggil murid-murid-Nya yang pertama di danau Genesaret. Dalam hal ini, Injil Yohanes hendak menekankan bahwa warta yang diterima dari Yohanes Pembaptis telah membuka hati murid-murid Yohanes Pembaptis untuk mengenal dan mengikuti Yesus.
“Apakah yang kamu cari?” (ay.39) menjadi pertanyaan Yesus kepada murid Yohanes ketika Ia mengetahui telah diikuti. Pertanyaan ini pastilah diucapkan dengan nada lembut sehingga mereka tidak mampu menjawab dengan tepat pertanyaan Yesus. Pertanyaan Yesus sebagai Putera Allah yang baru saja ditunjukkan oleh Yohanes pembaptis tentulah terkait soal pencarian tujuan hakiki hidup manusia. Maka, jawabannya tentu adalah keselamatan kekal. Namun justru jawaban murid Yohanes tersembunyi dalam pertanyaan: “Rabi, dimanakah Engkau tinggal?” Pertanyaan balik yang tidak sambung ini berlatar pemahaman bahwa seorang rabi (guru) memiliki tempat tinggal yang sekaligus bisa menjadi tempat belajar bagi murid-murid rabi tersebut.
Yesus mengajak dua murid Yohanes dengan kata-kata: “marilah dan kamu akan melihatnya” (ay.39). Ajakan ini diikuti dengan reaksi “mereka pun datang, melihat… dan… tinggal bersama-sama dengan Dia”. Kata kerja datang, melihat dan tinggal menjadi inspirasi bagi kita sebagai pengikut Yesus. Datang terlebih dahulu kepada Kristus, supaya kita bisa melihat dari dekat yang berarti mengenalnya untuk kemudian tinggal dan bersatu bersama-Nya. Tiga tindakan ini juga semestinya kita berlakukan untuk mengenali Allah yang hadir dalam diri sesama yang membutuhkan bantuan cinta kasih kita. Menjadi tindakan yang keliru dalam hal hidup beriman ketika kita melihat(-lihat) terlebih dahulu, datang dengan konsep yang kita miliki, dan tidak mau tinggal bersama dalam iman.*** (R.YKJ)

Jumat, 08 Oktober 2010

Minggu Biasa XXVIII, 10 Oktober 2010



Doa Renungan

Allah Bapa kami yang mahabaik, begitu besar kasih-Mu kepada kami, tetapi seringkali kami tak menyadari kebaikan-Mu itu, sehingga kami selalu mengeluh akan hidup yang kami jalani. Curahkan berkat-Mu bagi kami, agar kami selalu melihat kehadiran-Mu yang yang menguatkan kami dalam menjalani kehidupan ini. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Pembacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja (2Raj 5:14-17)


"Naaman kembali kepada Elisa, abdi Allah, dan memuji Tuhan."


Sekali peristiwa, turunlah Naaman, panglima raja Aram, ke Sungai Yordan, lalu membenamkan dirinya tujuh kali ke dalam sungai itu sesuai dengan perkataan Elisa, abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak, dan ia menjadi tahir. Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Sesampai di sana, majulah ia ke depan Elisa dan berkata, "Sekarang aku tahu bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu, terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!" Tetapi Elisa menjawab, "Demi Tuhan yang hidup, yang aku layani, aku tidak akan menerima apa-apa." Walaupun Naaman mendesaknya, Elisa tetap tidak mau menerima sesuatu. Akhirnya berkatalah Naaman, "Jikalau demikian, berikanlah kepada hambamu ini tanah sebanyak dapat diangkut oleh sepasang bagal, sebab hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan kurban bakaran atau kurban sembelihan kepada allah lain, kecuali kepada Tuhan."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = c, 4/4, PS 807
Ref. Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita.
Ayat. (Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4; R: 2b)
1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
2. Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang datang daripada-Nya, Ia telah menyatakan keadilan-Nya di hadapan para bangsa. Ia ingat akan kasih setia-Nya terhadap kaum Israel.
3. Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah dan bermazmurlah!

Pembacaan dari Surat kedua Rasul Paulus kepada Timotius (2Tim 2:8-13)

"Jika kita bertekun, kita pun akan memerintah dengan Kristus."


Saudaraku terkasih, ingatlah akan ini: Yesus Kristus, keturunan Daud, yang telah bangkit dari antara orang mati, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. Karena pewartaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi sabda Allah tidak terbelenggu. Karena itu, aku sadar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka pun memperoleh keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. Benarlah sabda ini: Jika kita mati dengan Kristus, kita pun akan hidup dengan Dia. Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia. Jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita. Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = es, 2/2, Kanon, PS 955
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (1Tes 5:18; 2/4)
Bersyukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah bagimu dalam Kristus Yesus.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (17:11-19)


"Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?"


Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia masuk suatu desa, datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh, dan berteriak, "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Yesus lalu memandang mereka dan berkata, "Pergilah dan perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara dalam perjalanan, mereka menjadi tahir. Seorang di antara mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus, dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu seorang Samaria. Lalu Yesus berkata, "Bukankah sepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini? Lalu Yesus berkata kepada orang itu, "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Penyembuhan sepuluh orang kusta dalam Luk 17:11-19 terjadi ketika Yesus sedang dalam perjalanan menuju ke Yerusalem - ke tempat ia akan ditolak, menderita dan wafat disalibkan, tapi juga tempat ia bangkit. Ringkasnya, kisah ini terjadi dalam perjalanan memperkenalkan Yang Mahakuasa sebagai Bapa yang berbelaskasihan kepada manusia. Tidak semua orang memahaminya. Juga mereka yang mendapatkan kebaikan darinya.

Bila dieja sebagai Ierousaleem, kota tujuan perjalanannya itu tampil sebagai tempat yang menolak kehadiran utusan Yang Mahakuasa ini, bahkan memperlakukannya dengan buruk. Kota seperti ini tampil sebagai kota kezaliman - Yeru-"zalim" yang akan runtuh dan diganti dengan Hierosolyma, tempat Yesus akan dimuliakan, kota kedamaian, Yeru-"syaloom". (Sebagai tujuan perjalanan Yesus, nama kota itu ditulis sebagai Ierousaleem dalam 9:51; Hierosolyma dalam 13:22, di Ierousaleem 17:11, dan kemudian Hierosolyma 19:28). Sepuluh orang kusta yang berseru kepadanya "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" menemuinya dalam perjalanannya ke Yeru-"zalim". Sepuluh orang kusta tadi sebenarnya tidak lagi berada di dekat tempat yang bakal runtuh itu, melainkan menuju ke Yesus yang akan mengubah kota kezaliman itu menjadi kota damai. Kesepuluh penderita kusta itu sebenarnya malah lebih dekat ke pembawa keselamatan daripada Yeru-"zalim" sendiri! Tapi apa semuanya beres?

DILEMA PRAKTEK AGAMA

Yesus tidak segera menyembuhkan kesepuluh orang berkusta tadi melainkan menyuruh mereka memperlihatkan diri kepada imam-imam (ayat 14). Hukum adat dan agama di Israel dulu menggariskan, orang kusta yang sembuh baru akan diterima kembali ke dalam masyarakat setelah dinyatakan sembuh dalam upacara yang hanya boleh dilakukan para imam. Hukum ini masih dapat dilihat dalam Im 14:1-32. Di situ diberikan pegangan untuk memeriksa apakah orang sungguh berpenyakit kusta atau tidak, apakah telah sembuh dari kusta atau belum. Hanya imam-lah yang berhak menyatakan "najis" (kotor karena kusta) atau "tahir" (bersih, sembuh dari kusta). Tujuan utamanya ialah menjamin agar kurban dan upacara kurban hanya dilakukan dan diikuti oleh mereka yang tak najis, yang bersih. Mereka yang tak bersih, termasuk mereka yang menderita kusta, tersingkir dari kehidupan yang ketika itu memang berporos pada praktek dan upacara agama. Tentunya semua ini pada awalnya berkaitan dengan upaya pencegahan penularan.

Dapatkah mereka kembali? Jelas mungkin dan ada pengaturannya. Namun menjelang zaman Yesus, penegasan sudah tahir atau masih kotor hanya dilakukan imam di Bait Allah di Yerusalem walaupun tidak dikenal larangan melakukannya di tempat lain. Dalam prakteknya para imam tidak lagi menjalankannya di luar Bait Allah karena semua upacara makin dipusatkan di situ. Tapi untuk memasuki Bait Allah orang harus bersih. Padahal bersih tidaknya mereka itu perlu ditegaskan terlebih dahulu oleh imam-imam yang kini melakukan upacara yang diterakan dalam Im 14 tadi hanya di dalam Bait Allah. Jadi orang kusta atau yang disangka menderita kusta benar-benar terkucil dan tidak memiliki tempat mengadu lagi. Dengan latar belakang seperti ini Yesus itu memang menjadi harapan satu-satunya. Mereka ingin mendapatkan belas kasihan, bukan kesembuhan saja. Ini seruan orang yang sudah bakal puas bila dapat sekadar mencicipi benarnya hal yang selalu diajarkan, yakni bahwa Tuhan itu berbelaskasihan.

APA YANG TERJADI?

Dengan menyuruh kesepuluh orang kusta tadi menghadap imam Yesus menghormati hukum agama yang dikeramatkan dalam Im 14 tadi. Tentu saja ia sadar praktek pada zaman itu tidak memudahkan orang kusta tadi menghadap imam-imam. Yesus sebetulnya menghimbau imam-imam agar berani keluar dari rambu-rambu tambahan yang menyesakkan (yaitu hanya melakukan ritual Im 14 di Bait Allah) dan tak memungkinkan tujuan hukum yang sebenarnya tercapai.

Juga para penderita kusta itu tahu bahwa sulit atau bahkan tak ada kemungkinan menghadap imam. Justru karena itulah mereka berseru kepada tokoh yang menjadi harapan banyak orang ini! Namun apa yang dikatakannya? Ah, mengecewakan. Sama saja! Ia hanya membuat kami-kami kaum tersingkir makin merasakan getirnya diemohi. Guru yang katanya tumpuan hidup ini melempar kami kembali kepada imam-imam yang sudah jelas tak dapat membuat nasib kami berubah. Seandainya toh ada di antara imam di Yerusalem yang mau memahami, takkan mudah baginya menembus kekakuan rekan-rekannya. Pembaca kisah ini boleh ingat kembali perumpamaan orang Samaria yang baik hati yang mengisahkan orang Yahudi yang malang yang tidak dipedulikan oleh kaumnya sendiri. Imam dan orang Lewi yang lewat dan "melihat" orang itu malah menyingkir (Luk 10:31-32), tentunya karena mereka mau menghindar agar tidak menjadi "kotor" dengan menyentuh darah orang yang luka itu dalam perjalanan mereka ke tempat upacara. Satu-satunya orang yang menjadi tumpuan harapan sepuluh orang kusta tadi juga "melihat" mereka (ayat 14) tapi kemudian ia hanya menyuruh mereka mencari jalan yang sudah tertutup. Maka mereka pergi dengan perasaan hampa.

WARTA GEMBIRA

Tetapi justru ketika mereka menjauh dari Yesus dalam keadaan tadi mereka mendapati diri mereka dibersihkan. Mereka sembuh dari penyakit kusta. Tak diceritakan bagaimana perasaan mereka. Apa mereka berusaha mendapat pengakuan resmi dari imam-imam bahwa mereka telah sembuh dst. tidak lagi menjadi pusat warta Injil. Lukas hanya mengisahkan bahwa salah satu dari kesepuluh orang yang sembuh tadi kembali menghadap Yesus "sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepadanya" (Luk 17:15-16). Ditambahkannya, "Orang itu orang Samaria". Ia yang nanti dalam ayat 19 disebut Yesus "orang asing", bukan orang Yahudi, bukan dari kaum sendiri itulah satu-satunya dari kesepuluh orang yang telah sembuh yang tidak kehilangan harapan yang sesungguhnya. Ia juga satu-satunya orang yang berhasil menembus keputusasaan. Ia tetap memuliakan Allah.

Di mana sembilan orang lain yang juga sembuh? Mereka mendapati diri bersih, tapi untuk mendapat pengakuan betul bersih dari imam-imam? Forget it! Di mata orang mereka masih "kotor" dan tak bisa mendapatkan pentahiran resmi. Mereka tetap pahit. Sudah terima nasib saja. Orang Samaria tadi lain. Memang baginya juga tak mungkin mendatangi imam di Bait Allah. Pertama-tama karena ia masih dipandang kotor. Kedua, ia orang Samaria, orang asing, bukan orang Yahudi dan diharamkan mendekat ke Bait Allah. Tapi dia menemukan ganti semuanya dalam diri Yesus yang membawakan belas kasihan ilahi. Karena itu ia kembali dan mengucap terima kasih sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring. Semua orang mendengar. Kelakuannya menjadi kesaksian akan unggulnya belas kasihan Tuhan terhadap pembatasan-pembatasan yang dilakukan dan terjadi dalam..praktek agama!

"IMANMU TELAH MENYELAMATKANMU!"

GUS: Lalu apa maknanya orang Samaria tadi dikatakan telah diselamatkan berkat imannya. Ia sembuh dari kustanya karena ia meng-iman-i Yesus yang sedang lewat?
LUC: Tentu saja itulah arahnya. Tapi bagi orang Samaria itu kesembuhan bukan lagi yang paling penting.
GUS: Wait, apa maksudmu? Kan ini peristiwa penyembuhan? Kau sendiri yang cerita kan?
LUC: Ia sembuh dari penyakit yang sebenarnya. Ia tidak seperti sembilan orang yang lain yang jadi apatis terhadap Tuhan, terhadap lembaga agama, terhadap orang lain, terhadap tokoh-tokoh. Orang Samaria itu kini berani dan mau menjadi manusia wajar.
GUS: Jadi itu iman yang menyelamatkannya. Sepolos itu?
LUC: Dan juga sedalam itu. Orang Samaria itu menyangkal batas-batas yang mengungkung kehidupan. Eh, kayak kalian menyangkal setan dan segala perbuatannya ketika kalian dibaptis.
GUS: Ini terjadi dalam kontak dengan Yesus yang sedang berjalan ke Yeru-"zalim" - ke tempat bakal kena susah, tapi terus. Bisakah dikatakan, orang Samaria itu berbagi iman dengan Yesus yang berani menghadapi prospek seram di Yeru-"zalim" dan oleh karenanya diselamatkan?
LUC: Ehm! [Dehem puas karena Injilnya dimengerti setapak lebih jauh.]

Luc tenggelam dalam anganannya mengenai Yesus, mengenai orang Samaria, mengenai ilmu penyakit dan praktek ketabiban. Sore itu kami lewatkan dengan omong-omong di seputar khasiat kisah dan pengisahan sambil menghabiskan sepoci teh hibiscus hangat. Diagnosisnya menarik. Lemak-lemak rohani yang tebal mengental itu telah membuat batin para imam di Yeru-"zalim" mengalami sklerosis sehingga tidak lagi mampu mengikuti irama belaskasihan Tuhan kepada manusia yang menderita.

Salam hangat,
A. Gianto