Maria Ratu Damai

Maria Ratu Damai

Kamis, 24 Maret 2016

Kamis Putih, Tahun C



Teladan Kerendahan Hati dan Saling Melayani

Bacaan Pertama: Keluaran 12:1-8.11-14
Di tanah Mesir, Allah meminta tiap keluarga menyembelih anak domba jantan yang berumur satu tahun. Darah anak domba itu dioleskan pada tiang dan ambang pintu rumah. Ketika Tuhan menjatuhkan hukuman atas bangsa Mesir, Ia akan melewati rumah-rumah yang bertanda olesan darah anak domba pada pintunya. “Tuhan lewat”, demikianlah Paskah menurut bangsa pilihan.

Bacaan Kedua: 1 Korintus 11:23-26
Paulus mengungkapkan nilai Ekaristi sebagai kurban cinta Kristus yang memberikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan rohani yang menyelamatkan. Kristus adalah Anak Domba Paskah yang menyerahkan diri demi keselamatan manusia. Ekaristi senantiasa didasarkan pada iman akan kurban Kristus, bersifat mengumpulkan dan mempersatukan, serta memuat misi perutusan untuk mewartakan wafat dan kebangkitan Tuhan.

Bacaan Injil: Yohanes 13:1-15

Bacaan Injil pada Kamis Putih mengisahkan peristiwa Yesus yang membasuh kaki para murid. Peristiwa ini terjadi sebelum perjamuan paskah yang dilakukan Yesus bersama para murid-Nya. Yesus telah mengetahui bahwa penderitaan-Nya hampir tiba. Bahkan Ia telah mengetahui bahwa Yudas telah berencana mengkhianati-Nya. Yesus telah banyak memberikan pengajaran dan berbuat banyak kebaikan agar diteladani oleh para murid-Nya. Kini saatnya bagi Yesus meninggalkan pesan kuat dan mengena pada diri para murid agar saling mengasihi. Pesan itu termuat pada tindakan Yesus membasuh kaki para murid-Nya.
Peristiwa pembasuhan kaki terjadi sebelum perjamuan Paskah yang diadakan Yesus dan para murid-Nya. Peristiwa itu sangat mungkin terjadi pada sore hari, saat mereka sedang mempersiapkan perjamuan Paskah pada malamnya. Yesus telah mengetahui hal-hal yang akan terjadi, termasuk pengkhianatan oleh Yudas Iskariot. Yesus telah memberikan pengajaran khusus kepada para murid-Nya, termasuk Yudas. Sapaan dan teguran khusus pasti juga telah diberikan Yesus kepada Yudas (misal: Yoh. 12:4-8). Namun demikian, Yudas tetap berencana mengkhianati Yesus dengan menukar informasi keberadaan Yesus dengan tiga puluh keping uang perak.
Pembasuhan kaki para murid oleh Yesus ini menjadi tanda dan teladan kerendahan hati, cinta kasih dan pelayanan. Yesus adalah Guru dan Putera Allah, namun rela merendahkan diri dengan berlutut untuk membasuh kaki para murid-Nya. Semua murid Ia basuh kakinya, termasuk Yudas yang hendak mengkhianati-Nya.
Pembasuhan kaki itu dilaksanakan sesudah makan bersama menjelang saat-saat mulainya waktu perayaan Paskah. Sebelum perayaan Paskah, terdapat ritual pembasuhan kaki yang bisanya dilakukan oleh seorang hamba pada tuannya. Di antara para murid tidak ada seorang pun yang berinisiatif membasuh kaki Yesus dan para murid yang lain karena merasa bukan sebagai hamba bagi yang lain. Yesus kemudian mengambil baskom, menuang air ke dalamnya dan melepas jubah-Nya dan mengenakan celemek pada pinggang-Nya. Ada waktu jeda ketika Yesus menyiapkan diri-Nya untuk mengambil tugas sebagai pembasuh kaki. Namun demikian, tidak ada satu orang pun dari para murid yang berinisiatif mengambil peran itu dari Yesus.
Ketika Petrus mendapat giliran untuk dibasuh kakinya, ia protes dan bersikap tidak mau dibasuh oleh Yesus. Reaksi ini sangat terlambat. Petrus tidak perlu menunggu Yesus sampai di hadapannya, tidak perlu menunggu Yesus mulai membasuh murid, bahkan tidak perlu menunggu Yesus menanggalkan jubah dan mengikat celemek di pinggang-Nya. Petrus sebagai ketua para murid seharusnya tanggap dari awal dan mau melayani yang lainnya. Begitulah kenyataannya, bahwa para murid tidak cepat tanggap atas harapan Yesus. Mereka belum seluruhnya memahami ajaran Yesus tentang kerendahan hati dan saling melayani dalam cinta kasih.
Cinta kasih dan pelayanan yang kita berikan kepada sesama harus disertai dengan ketulusan dan kerendahan hati. Melayani sesama bukan karena kita merasa lebih hebat dari yang kita layani, namun karena kita mau bersama Yesus melayani sesama. Siapa pun yang memiliki posisi, jabatan, kedudukan yang lebih tinggi memiliki tanggung jawab pelayanan yang lebih tinggi pula. Yesus adalah Putera Allah, melebihi segala ciptaan, namun Ia rela membasuh kaki para murid-Nya. Kita pun diminta Yesus untuk saling membasuh di antara keluarga, rekan seiman, dan lingkungan hidup kita. (R.YKJ)

Sabtu, 19 Maret 2016

Minggu Palma, Tahun C



Yesus: Allah yang Menderita untuk Bangkit

Bacaan sebelum perarakan: Lukas 19:28-40
Sebelum memasuki Yerusalem, Yesus menyuruh dua orang murid untuk mengambil seekor keledai muda dari kampung yang akan mereka lalui. Keledai itu dipakai Yesus sebagai tunggangan memasuki Yerusalem. Para murid mengalasi punggung keledai dengan pakaian mereka dan menghamparkan di jalan. Ketika memasuki Yerusalem, mereka menyerukan Yesus sebagai Raja yang datang dalam nama Tuhan. Ketika orang-orang Farisi meminta Yesus mencegah seruan para murid itu, Yesus mengatakan bila para murid diam justru batu-batu yang akan berteriak. Yesus memang adalah Raja yang berasal dari Allah. Allah punya cara untuk memperkenalkan Putera-Nya. Namun cara apapun yang dilakukan, Yesus tetap ditolak dan dijatuhi hukuman mati di kayu salib.

Bacaan Pertama: Yesaya 50:4-7
Yesaya mengungkapkan keadaan hamba Allah yang menderita. Kesetiaan kepada Allah seringkali menghadirkan konsekuensi penolakan dan penganiayaan. Namun demikian, Tuhan tetap menyertai dan menolong hamba-hamba-Nya. Hamba Allah yang menderita ini menjadi gambaran Yesus yang rela menderita di kayu salib.

Bacaan Kedua: Filipi 2:6-11
Yesus datang ke dunia dengan menjadi Manusia. Ia meninggalkan tahkta kemuliaan Allah dan menjadi Manusia seutuhnya. Inilah yang disebut pengosongan diri, turun dari martabat keluhuran Allah dan rela menjadi Manusia, bahkan menjadi Hamba yang menderita. Yesus adalah Putera Allah, Ia adalah Tuhan, maka Bapa memberikan kembali kemuliaan pada-Nya dalam kebangkitan yang mulia setelah mengalami penderitaan dan kematian di kayu salib.

Bacaan Injil/Pasio: Lukas 22:14 – 23:56
Pasio atau kisah sengsara dibacakan atau dinyanyikan pada Minggu Palma ini agar kita semakin mampu memahami kesengsaraan Yesus demi keselamatan manusia. Liturgi Minggu Palma dibagi dalam dua bagian, yakni perarakan daun palma dan liturgi di dalam gereja. Umat beriman diajak merasakan kembali Yesus yang memasuki Yerusalem dan disambut sebagai Raja. Namun demikian, di Yerusalemlah Yesus hendak menanggung penderitaan-Nya.
Pasio versi Lukas (panjang) diawali dengan perjamuan malam terakhir hingga Yesus wafat di kayu salib dan dimakamkan. Dalam kisah yang panjang ini, tampak jelas misi keselamatan Allah dalam diri Yesus harus dijalankan dengan menanggung kesengsaraan dan kematian di kayu salib. Pesan terakhir pada perjamuan paskah bersama para murid-Nya menegaskan bahwa Yesus memberikan tubuh dan darah-Nya menjadi santapan keselamatan kekal. Pesan kesetiaan dan cinta kasih pada Allah cukup kuat, meskipun Yesus tahu bahwa para murid akan meninggalkan-Nya bahkan Petrus akan menyangkal-Nya.
Yesus menanggung penderitaan karena taat pada kehendak Bapa dan Yesus mengurbankan diri-Nya. Yesus bukan dikurbankan atau menjadi kurban. Hal ini jelas termuat ketika di bukit zaitun Yesus berdoa dalam kegentaran sebagai Manusia karena Ia sebagai Putera Allah mengetahui penderitaan yang akan dialami-Nya. Keringat darah menjadi tanda bahwa fisik kemanusiaan Yesus tidak sanggup menyaksikan penderitaan yang tergambar di hadapan-Nya.  
Kesedihan Yesus di bukit zaitun ditambah dengan sikap para murid yang tertidur, padahal Yesus meminta mereka untuk berdoa dan berjaga-jaga. Kehadiran Yudas bersama imam kepala dan pengawal Bait Allah menandai semakin mendekatnya penderitaan Yesus. Yudas mengkhianati-Nya dan para murid melarikan diri meskipun Petrus awalnya menghunus pedang hingga telinga hamba imam agung terputus. Kesedihan Yesus juga terjadi saat Petrus menyangkalnya sebelum ayam jantan berkokok. Petrus yang diharapkan menjadi batu karang ternyata masih saja menjadi kerikil yang tak mampu memahami keselamatan Allah.
Penderitaan Yesus terus meningkat dalam penghakiman oleh mahkamah agama, Pilatus dan Herodes. Aneka hujatan, cacian dan tuduhan palsu terarah kepada Yesus. Yesus sungguh bukan hanya sebagai Allah yang bisa diraba, namun Allah yang bisa dicaci-maki karena Ia sebagai Hamba yang menderita. Klimaks penderitaan Yesus terjadi ketika Ia dijatuhi hukuman salib, hukuman mati menurut cara kekaisaran Romawi bagi para penjahat.
Ketika tergantung di kayu salib, Yesus masih memohonkan pengampunan bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya. Bahkan Yesus memberikan pengampunan kepada salah seorang penjahat yang disalibkan bersama-Nya. Ketika ada penyesalan dosa, meskipun pada detik-detik akhir hidupnya, penjahat itu tetap diampuni Yesus bahkan diberi jaminan Firdaus baginya. Hal ini berbeda dengan sikap banyak orang yang menyaksikan akhir hidup Yesus sesudah kegelapan menyelimuti bumi dan tabir Bait Suci terbelah dua. Mereka pulang sambil memukul-mukul diri tanda bahwa mereka ikut bersalah atas kematian Yesus. Ketika menyaksikan kematian Yesus, kepala pasukan berkata, “Sungguh, orang ini adalah orang besar”. Pernyataan kepala pasukan ini menjadi simbol keselamatan Allah dalam diri Yesus diberikan kepada seluruh bangsa. Kepala pasukan itu adalah orang Romawi dan Romawi disebut sebagai pusat dunia karena cakupan kekuasaannya yang luas saat itu.
Ada banyak tokoh tersaji dalam pasio Injil Lukas ini. Kita diajak merenungkannya sambil merefleksikan diri. Sikap mana yang cenderung ada pada diri kita sebagai murid-murid Kristus? Apakah kita cenderung seperti orang banyak yang ikut menyerukan “Hosana Putera Daud!”, namun sejurus kemudian ikut menyerukan “Salibkan Dia!”? Atau kita menyangkal status sebagai murid Kristus karena tidak siap menanggung konsekuensi iman kita? Atau mungkin kita sudah bisa bersikap seperti Kristus sendiri yang rendah hati, mencintai dengan tulus dan rela berkurban demi keselamatan sesama. (R.YKJ)

Sabtu, 12 Maret 2016

Minggu Prapaskah V, Tahun C



Pengampunan Dosa dan Perubahan Diri

Bacaan Pertama: Yesaya 43:16-21
Yesaya memberikan penghiburan kepada bangsa pilihan yang sedang mengalami pembuangan. Mereka terkenang, pada zaman Musa, Allah menuntun keluar dari tanah Mesir melalui laut Merah. Yesaya menyampaikan pesan Allah agar bangsa itu melupakan peristiwa-peristiwa indah dan hebat zaman dahulu karena Allah akan mendatangkan masa yang baru. Zaman baru ini akan mendatangkan kebahagiaan yang lebih besar dari masa silam.

Bacaan Kedua: Filipi 3:8-14
Paulus mengungkapkan bahwa segala sesuatu yang ia kerjakan dan ia miliki pada masa dahulu menjadi kerugian setelah mengenal Kristus. Paulus dahulu menjadi pemimpin tentara yang mengejar murid-murid Kristus. Namun sesudah mengenal Kristus, ia menganggap semua hal itu sia-sia dan merugikan dirinya dan orang lain. Kristuslah yang memberikan kebahagiaan sempurna, bahkan hendak memberikan kebangkitan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Panggilan sebagai murid Kristus membuat Paulus berusaha mendapat hadiah panggilan surgawi, harta rohani di surga.

Bacaan Injil: Yohanes 8:1-11

Bacaan Injil Yohanes ini berkisah tentang orang-orang Farisi yang membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Orang-orang Farisi itu hendak menjadikan Yesus sebagai hakim untuk mengadili perempuan itu. Mereka berharap ada keputusan yang keliru dari Yesus agar mereka bisa menangkap Yesus. Yesus dikenal dekat dengan orang-orang berdosa, seperti para pemungut cukai.
Dikisahkan oleh penginjil bahwa Yesus saat itu sedang mengajar di pelataran Bait Allah. Kemudian datanglah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang mereka sebutkan tertangkap basah berbuat zinah. Mereka menyebut Yesus sebagai Rabi, sebutan penghormatan untuk seorang guru, dengan maksud agar Yesus terpancing untuk menjadi hakim atas perempuan itu. Seturut hukum Musa, perempuan yang berbuat zinah harus dirajam, hukuman dengan cara melempari batu si terhukum.
Reaksi Yesus tampak tidak peduli karena Ia membungkuk dan menulis sesuatu di tanah dengan jari-Nya. Tidak diketahui persis tulisan apa yang dibuat oleh Yesus. Tampaknya tulisan itu juga tidak menarik perhatian ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena mereka tetap mendesak Yesus untuk menjadi hakim atas perempuan itu. Yesus kemudian berdiri dan berkata bahwa siapa yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. Setelah mengatakan hal itu, Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah.
Kata-kata Yesus tadi ternyata membuat orang-orang yang hendak menghakimi perempuan itu menjadi terhakimi. Mereka tidak ada yang sungguh suci sehingga tidak berdosa. Bahkan satu per satu mereka pergi mulai dari yang tertua. Tertua secara artifisial pastilah yang lebih lama usianya. Usia yang lama pastilah memiliki banyak pengalaman, namun lebih banyak juga kesempatan untuk berbuat dosa. Dengan demikian, “mulai dari yang tertua” bisa diartikan yang lebih banyak dosanya meskipun dari segi umur bukanlah yang paling tua.
“Barang siapa yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu pada perempuan ini”. Manusia yang tidak berdosa adalah Yesus karena Ia adalah Putera Allah yang menjadi Manusia. Namun Yesus tidak melemparkan batu untuk yang pertama. Ketika semua orang telah meninggalkan tempat itu satu per satu, Yesus juga tidak menghukum perempuan itu.  “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”  Inilah jawaban Yesus kepada perempuan yang dihadapkan kepada-Nya. Perempuan tadi, bila benar telah berbuat zinah, telah mendapatkan hukuman dengan diarak ke hadapan Yesus yang sedang mengajar. Yesus tidak menambah hukuman lagi meskipun Yesus berhak melemparkan batu untuk pertama kali kepada perempuan itu seperti syarat yang diungkapkannya kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
Perzinahan termasuk dosa moral yang melanggar hukum kodrat perkawinan. Yesus tidak bersolider terhadap dosa semacam ini, namun Yesus menuntut perubahan semenjak Ia memberikan pengampunan atas dosa itu. Mesias datang untuk menyelamatkan dengan penebusan atas dosa manusia. Ketika manusia teah ditebus dosanya, maka manusia harus merubah sikap hidup untuk menjadi benar di hadapan Allah dan sesama.
Sekotor apapun diri kita karena dosa, bila berhadapan dengan Yesus dan berpasrah diri pada-Nya, maka akan ada pengampunan dosa. Yesus menghendaki persembahan hati yang remuk redam karena kesadaran akan kelemahan diri. Yesuslah yang akan menyatukan kembali hati yang remuk redam itu dan kita bertugas menjaganya dalam hidup kita. Prapaskah menjadi masa pertobatan yang menyadarkan kita akan kelemahan diri yang mudah jatuh dalam dosa. Penyadaran itu disertai dengan penyerahan diri agar mendapatkan pengampunan dari Allah dan kemudian kita mengadakan perubahan dan perombakan diri dalam perilaku hidup untuk menjaga kesucian diri kita. (R.YKJ)

Sabtu, 05 Maret 2016

Minggu Prapaskah IV, Tahun C



Kemurahan Hati Allah

Bacaan Pertama: Yosua 5:9a.10-12
Yosua memimpin bangsa pilihan memasuki dan tinggal di tanah terjanji. Mereka merayakan Paskah sebagai perayaan pembebasan Allah dari tanah Mesir. Bangsa itu kemudian menikmati roti tak beragi dari gandum hasil tanah Kanaan. Saat itu pula Allah tidak lagi menurunkan manna bagi mereka. Allah tetap mendampingi bangsa pilihan dan bermurah hati kepada mereka.

Bacaan Kedua: 2 Korintus 5:17-21
Paulus mengungkapkan bahwa orang-orang yang percaya kepada Kristus merupakan ciptaan baru yang didamaikan kembali dengan Allah. Pengampunan dan penerimaan orang berdosa oleh Yesus mencerminkan sifat Allah yang berkehendak mendamaikan dunia dengan surga. Paulus meminta agar umat senantiasa menyerahkan diri kepada Kristus yang menjadi jalan pendamaian manusia dengan Allah.

Bacaan Injil: Lukas 15:1-3.11-32

Bacaan Injil ini memuat kisah perumpamaan yang biasa disebut dengan judul “Anak yang Hilang”. Judul ini tentu berangkat dari sudut pandang sang anak bungsu yang pergi meninggalkan bapanya dan akhirnya menyadari perbuatannya sehingga kembali kepada bapanya. Judul lain yang sekarang lebih gemar dipakai untuk bacaan ini adalah “Bapa yang Baik Hati”. Judul kedua ini lebih menekankan sifat bapa yang baik hati terhadap anaknya, baik si bungsu yang telah meninggalkannya, maupun si sulung yang merasa iri hati.
Sesuai dengan tema renungan Prapaskah “Allah Mahabaik”, maka bacaan ini sebaiknya diarahkan untuk melihat kabaikan Bapa yang menerima kembali anak-Nya meskipun anaknya itu telah berdosa pada-Nya. Perumpamaan ini diungkapkan Yesus untuk menanggapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang tidak suka terhadap Yesus yang menerima para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Dengan demikian, Yesus menampilkan sifat Allah yang mahabaik dalam diri-Nya.
Dalam perumpamaan-Nya, Yesus mengatakan ada seorang yang dua anak laki-laki. Si bungsu meminta ayahnya untuk memberikan harta yang menjadi bagian warisan untuknya. Keesokan harinya, si bungsu menjual semua bagian hartanya dan kemudian pergi ke negeri yang jauh. Sikap si bungsu jelas keliru. Harta warisan tidak patut dituntut oleh anak terhadap orang tua, apalagi belum saatnya orang tua membagi hartanya sebagai warisan. Sikap keliru berikutnya adalah si bungsu menjual seluruh harta bagiannya itu dan pergi ke negeri yang jauh. Harta warisan itu berasal dari jerih payah orang tua dan pasti sedikit saja andil sang anak untuk mengupayakannya. Tidaklah pantas harta yang diusahakan dengan susah payah oleh orang tua kemudian dijual oleh anak tanpa menghargai jerih payah orang tuanya.
Si bungsu sengaja pergi ke tempat yang jauh karena hendak hidup berfoya-foya dengan hasil penjualan harta warisannya. Kebebasan si bungsu kebablasan sehingga memakai warisan orang tuanya dengan tidak bertanggung jawab. Pemborosan harta dengan hidup berfoya-foya membuatnya jatuh miskin dan mulai berpikir untuk bekerja demi mempertahankan hidupnya. Si bungsu mulai bertanggung jawab terhadap hidup dengan bekerja, namun dunia yang keras ternyata tidak berbelas kasih padanya. Untuk mengisi perutnya dengan makanan babi saja tidak ada orang yang memberikan padanya. Mulailah ia ingat bahwa di rumah ayahnya banyak pekerja yang mendapatkan makanan secara terjamin.
Ingatan akan rumah ayahnya membuat si bungsu berniat kembali ke rumah ayahnya, bukan dengan status sebagai anak namun sebagai pekerja di rumah ayahnya. Si bungsu menyadari bahwa ia telah berdosa kepada ayahnya, bahkan dosa kepada surga karena bertindak di luar kehendak Allah. Ia sendiri mengakui bahwa ia telah “mati kelaparan” karena jauh dari kasih ayahnya.
Si bungsu akhirnya kembali ke rumah ayahnya. Ketia ia masih jauh, ayahnya telah berlari menyambutnya, merangkul dan menciumnya. Si bungsu kemudian mengutarakan penyesalannya seperti yang direncanakannya, meskipun tidak semua kata-kata dapat diucapkannya. Ayahnya tampak tidak peduli dengan ucapan anaknya, ia justru menyuruh hamba-hambanya untuk menyiapkan acara pesta bagi anaknya yang telah kembali itu. Sang ayah bukan hanya lapang hati menerima anaknya yang telah memboroskan harta warisannya, namun menyambutnya seperti menyambut anak yang tidak pernah bersalah padanya.
Sementara itu, sikap anak sulung ditampilkan berbeda dalam perumpamaan ini. Si sulung merasa iri hati karena ayahnya menerima kembali si bungsu yang telah memboroskan harta keluarganya. Ayahnya bahkan mengadakan pesta untuk menyambut kedatangan si bungsu itu. Si sulung merasa iri hati karena selama ini ia merasa patuh terhadap ayahnya dan tidak pernah bertindak seperti si sulung. Namun demikian, ayahnya tidak pernah mengadakan pesta untuknya, bahkan sekedar memberikan anak kambing untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Rasa iri hati si sulung muncul karena merasa lebih baik dari si bungsu namun merasa tidak diperlakukan secara istimewa oleh ayahnya. Ia juga protes kepada ayahnya yang tidak menghukum si bungsu tetapi malah mengampuni dan menerima si bungsu dalam sebuah pesta.
Allah maha baik, maha pengampun dan murah hati pada kita. Seperti si bungsu, kita ditunggu oleh Allah agar kembali kepada-Nya. Allah akan melupakan kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan bila kita bertobat dan mohon belas kasih Allah. Ada kalanya kita juga terjatuh pada sikap si sulung yang iri hati terhadap sesama karena merasa Allah lebih berbelas kasih kepada mereka. Ketika kita setia kepada Allah, kemurahan dan belas kasih Allah tetap kita terima. Seperti si sulung, harusnya kita bersama dengan Bapa menyiapkan pesta bagi sesama kita. Si sulung bisa menjadi ketua pesta penyambutan si bungsu, maka kita bisa menjadi orang kepercayaan Allah untuk ikut menyambut kedatangan sesama yang kembali kepada Allah dalam pertobatan. Pada masa Prapaskah ini, kita diajak untuk mengalami pertobatan pribadi agar menerima kerahiman Allah, sekaligus mengajak orang lain untuk bertobat dengan memberi teladan kebaikan dan perhatian kepada mereka. (R.YKJ)