Maria Ratu Damai

Maria Ratu Damai

Sabtu, 31 Januari 2015

Minggu biasa IV, Tahun B



Daya Ilahi Yesus yang Mengagumkan

Bacaan I: Ul. 18:15-20
Tentang janji Allah kepada Musa bahwa Ia akan memilih nabi-nabi dari antara umat perjanjian. Nabi adalah utusan Allah bertindak sebagai penyambung lidah Allah, menyampaikan sabda dan kehendak Allah bagi umat-Nya.

Bacaan II: 1Kor. 7:32-35
Nasihat Paulus tentang cara hidup jemaat yang tertuju pada kehendak Tuhan. Panggilan orang yang selibat (tidak berkeluarga) bertujuan fokus pada pelayanan. Sedangkan panggilan berkeluarga bertujuan pada kebahagiaan suami-isteri sambil berkarya secara duniawi.

Bacaan Injil: Mrk 1:21-28
 Setting tempat dan waktu dalam kutipan ini adalah Kapernaum, sesudah Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama. Seturut kebiasaan, kepala rumah ibadat (sinagoga) mengundang orang yang berkompeten untuk memberikan pengajaran. Kehadiran Yesus di Kapernaum pastilah beberapa saat (hari) sebelum Hari Sabat. Kehadiran Yesus pastilah telah didengar sebagian orang, termasuk pemuka rumah ibadat, sehingga kemudian mereka menunjuk Yesus untuk mengajar. Belum banyak memang yang kerjakan Yesus pada awal Injil Markus ini, namun panggilan murid-murid yang pertama kiranya telah membuat Yesus lebih banyak dikenal meskipun tidak diceritakan dalam Injil Markus ini.
Orang-orang dalam rumah ibadat itu takjub mendengarkan ajaran Yesus. Rasa takjub melebihi dari kekaguman, lebih terarah pada sikap keterpesonaan yang teramat sangat. Keterpesonaan itu bukan utamanya pada penampilan fisik Yesus, namun pada materi penyampaian dan cara pengajarannya. Hal ini ditegaskan, “sebab Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (ay.22). Yesus mengajar dengan penuh kuasa karena Ia sendiri adalah Putera Allah. Hal ini dibandingkan dengan pengajaran ahli-ahli taurat yang mengajar dengan cara menelaah hukum Taurat sembari mengutip pendapat-pendapat ahli Taurat yang lebih berwibawa.
Ketakjuban orang tentang pengajaran Yesus kian bertambah ketika ada orang yang kerasukan roh jahat dan berteriak pada Yesus: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah” (ay.24). Tanpa banyak berdiskusi dengan roh jahat itu, Yesus kemudian menghardik dan mengusirnya dari tubuh orang yang dirasuki. Roh jahat itu ternyata tunduk pada Yesus dan segera pergi dari orang yang dirasuki dengan cara mengoncang-goncangkan tubuh orang itu dan menjerit dengan suara nyaring.
Ketakjuban banyak orang di tempat ibadat itu yang kemudian menyebar ke penjuru Galilea, bukan sekedar di Kapernaum. Kalau kita mau melanjutkan sedikit lagi dari bacaan ini, Markus menceritakan Yesus yang menyembuhkan ibu mertua Simon. Mukjijat penyembuhan ini membuat Yesus semakin dikenal dan banyak orang mencari-Nya. Namun demikian, dalam Markus 1:35-39 dikisahkan Yesus sengaja pergi dari Kapernaum untuk berkeliling ke seluruh daerah Galilea guna mewartakan Injil (mengajar).
Yesus adalah pembawa kabar gembira keselamatan Allah. Warta ini disampaikan dengan cara mengajar agar orang mengerti dengan benar tawaran kasih Allah dan akhirnya bertobat dari segala dosa mereka. Mukjizat penyembuhan yang dilakukan Yesus merupakan buah dari iman orang yang disembuhkan, atau menjadi bagian dari cara Yesus agar iman tumbuh dan berkembang. Ketika Yesus dicari banyak orang semata-mata demi kesembuhan fisik, Yesus justru menghindar. Yesus memiliki daya ilahi karena Ia adalah Putera Allah. Daya ilahi itu dapat diterima dengan baik ketika kita menanggapinya dengan sepenuh iman. (R.YKJ)

Jumat, 23 Januari 2015

Minggu biasa III, Tahun B



Segera Meninggalkan Jala dan Mengikuti Yesus

Bacaan I: Yunus 3:1-5.10
Pelaksanaan tugas perutusan Yunus sebagai nabi untuk menyampaikan penghukuman terhadap warga kota Niniwe. Warta yang dibawa Yunus jutru menyadarkan warga Niniwe untuk bertobat dan berpuasa. Tindakan ini membuat Allah membatalkan rencana penghukuman-Nya.

Bacaan II: 1Kor.7:29-31
Paulus memberi nasihat agar hal-hal yang bersifat duniawi tidak terbuai, karena dunia ini tidaklah kekal. Kegembiraan sebagai orang yang percaya kepada Kristus melebihi kegembiraan karena hal-hal duniawi.

Bacaan Injil: Mrk. 1:14-20
Penginjil Markus mengawali kisah tentang permulaan karya Yesus secara ringkas dan ada lompatan peristiwa yang tidak dicatat dalam Injil Markus. Hal ini bisa kita lihat dari frasa “Sesudah Yohanes Pembaptis ditangkap…” (ay.15) dan “Ketika Yesus sedang menyusuri Danau Galilea…” (ay.16). Kisah tentang penangkapan Yohanes Pembaptis dan kisah tentang Yesus sesudah berpuasa di padang gurun dilompati oleh Penginjil Markus karena hendak menekankan perhatian yang harus beralih dari Yohanes Pembaptis kepada Yesus. Selain itu, Yesus yang mulai mewartakan Kerajaan Allah melakukan tindakan penting dengan memanggil murid-murid-Nya yang pertama.
Karya Yesus ditandai dengan seruan: “Waktunya telah genap. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (ay.17). Kegenapan waktu, Kerajaan Allah dan Injil merupakan tiga hal yang tak terpisahkan. Allah telah mewahyukan kerajaan-Nya sejak Perjanjian Lama lewat para nabi, namun pewahyuan ini tidak ditanggapi dengan baik oleh umat perjanjian. Kerajaan Allah itu kini tergenapi dalam diri Yesus, sebagai Putera Allah yang diberikan kepada dunia. Perutusan Yesus adalah mewartakan kabar gembira (Injil) Kerajaan Allah.
Prolog permulaan karya Yesus ini kemudian dilanjutkan dengan kisah panggilan Yesus kepada murid-murid yang pertama. Markus (sebagaimana Injil Sinoptik) memposisikan Yesus yang aktif memanggil empat orang murid di Danau Galilea. Dalam bagian ini, kembali Markus menyajikan secara ringkas. Tidak ada dialog atau pertanyaan dari orang-orang yang dipanggil itu. Hal ini mau mengisyaratkan bahwa orang-orang yang dipanggil oleh Yesus itu telah menerima warta Yohanes Pembaptis dengan baik, sehingga mereka tidak mempertanyakan lagi panggilan itu, atau tidak memperdebatkannya di antara mereka. Bila kita telusuri Injil Markus lebih jauh, orang-orang Farisi, dkk mempertanyakan dan memperdebatkan Yesus karena mereka tidak terbuka pada warta Yohanes Pembaptis dan terhadap Yesus sendiri.
Kepada Simon dan Andreas, Yesus memanggil mereka dan berjanji hendak menjadikan mereka sebagai penjala manusia. Penjala manusia tentu ungkapan yang aneh pada masa itu. Namun demikian, mereka tidak mempertanyakan maksud Yesus. Tindakan mereka adalah segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus. Jala mereka hanya untuk menangkap ikan, sedangkan untuk menangkap manusia pastilah membutuhkan jala yang lain yang telah disiapkan oleh Yesus.
Panggilan berikutnya adalah terhadap Yakobus dan Yohanes. Markus tidak membubuhkan dialog atau kata-kata Yesus, meski demikian pastilah ada ajakan Yesus yang memanggil mereka. Reaksi dua orang ini pun kemudian mengikuti Yesus, tentu dengan meninggalkan jala, perahu dan orang-orang upahan. Keempat orang yang dipanggil oleh Yesus ini memiliki reaksi yang mirip dengan segera meninggalkan yang sedang mereka kerjakan dan kemudian mengikuti Yesus. Jala, perahu, ikan dan orang-orang upahan tidak lagi menjadi perhatian mereka karena kini perhatian mereka tertuju pada Yesus yang mereka ikuti.
Panggilan menjadi penjala manusia secara perlahan akan terbangun dalam diri para murid itu dengan mendengarkan pengajaran Yesus dan menyaksikan karya Yesus. Tugas sebagai penjala manusia akan benar-benar terwujud ketika mereka benar-benar “lulus” sebagai murid Yesus. Mereka akan menjadi pewarta yang handal bagi keselamatan Allah dalam diri Yesus ketika Yesus telah berlalu dari dunia ini dalam kebangkitan-Nya yang mulia. (R.YKJ)

Sabtu, 17 Januari 2015

Renungan Minggu biasa II/B



Minggu biasa II, tahun B

Bacaan I: 1Sam. 3:3b-10.19
Berisi tentang panggilan Samuel yang dikira Eli yang memanggilnya. “Bersabdalah Tuhan, hamba-Mu mendengarkan”, menjadi tanggapan Samuel atas panggilan Allah.

Bacaan II: 1Kor. 6: 13c15a.17-20
Berisi tentang nasihat Paulus bahwa orang yang percaya kepada Yesus diangkat menjadi tubuh mistik Kristus dan harus menghormati tubuhnya sebagai bait Roh Kudus. Dengan demikian, orang harus memperlakukan tubuh untuk memuliakan Allah, bukan justru menodai tubuh dengan perbuatan dosa.

Bacaan Injil: Yoh. 1:35-42
Kutipan Injil ini berisi tentang panggilan Yesus kepada murid-murid-Nya yang pertama. Kisah yang tersaji dalam Injil Yohanes ini memiliki perbedaan dengan kisah panggilan Yesus dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas). Perbedaan setting tempat (Betania dan Galilea/Genesaret) tidak menjadi persoalan karena di kedua tempat ini pastilah pernah dikunjungi Yesus ketika memanggil murid-murid-Nya. Kedua tempat itu juga masih berada di sekitar danau Galilea. Seturut maksud penulisan Injil Yohanes, Yesus, Sang Mesias adalah Sosok utama untuk menyelamatkan manusia. Mesias yang berasal dari Bapa harus lebih utama dari segala nabi dan guru, termasuk juga Yohanes Pembaptis.
“Lihatlah Anak domba Allah!” (ay.36) merupakan pengulangan dari kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus yang dibaptisnya di sungai Yordan (ay.29). Pengulangan kesaksian ini menghendaki efek bagi murid-murid Yohanes Pembaptis. Efek dari kesaksian itu adalah murid-murid Yohanes mengikuti Yesus. Yohanes Pembaptis mendorong kedua muridnya (Andreas dan Simon) untuk menjadi pengikut dan murid Yesus, Sang Mesias. Dalam hal ini, penginjil ingin agar label murid Yohanes Pembaptis digantikan dengan label murid Yesus. Memang demikian hendaknya, kerena Yohanes Pembaptis bertugas mempersiapkan bagi kedatangan Yesus, Sang Mesias. Karya Yesus sekaligus mengakhiri karya pewartaan Yohanes Pembaptis.
Tindakan aktif murid-murid Yohanes yang mengikuti Yesus menjadi pembeda pula dengan kisah dalam Injil Sinoptik. Dalam Injil Sinoptik, Yesuslah yang lebih aktif menjumpai dan memanggil murid-murid-Nya yang pertama di danau Genesaret. Dalam hal ini, Injil Yohanes hendak menekankan bahwa warta yang diterima dari Yohanes Pembaptis telah membuka hati murid-murid Yohanes Pembaptis untuk mengenal dan mengikuti Yesus.
“Apakah yang kamu cari?” (ay.39) menjadi pertanyaan Yesus kepada murid Yohanes ketika Ia mengetahui telah diikuti. Pertanyaan ini pastilah diucapkan dengan nada lembut sehingga mereka tidak mampu menjawab dengan tepat pertanyaan Yesus. Pertanyaan Yesus sebagai Putera Allah yang baru saja ditunjukkan oleh Yohanes pembaptis tentulah terkait soal pencarian tujuan hakiki hidup manusia. Maka, jawabannya tentu adalah keselamatan kekal. Namun justru jawaban murid Yohanes tersembunyi dalam pertanyaan: “Rabi, dimanakah Engkau tinggal?” Pertanyaan balik yang tidak sambung ini berlatar pemahaman bahwa seorang rabi (guru) memiliki tempat tinggal yang sekaligus bisa menjadi tempat belajar bagi murid-murid rabi tersebut.
Yesus mengajak dua murid Yohanes dengan kata-kata: “marilah dan kamu akan melihatnya” (ay.39). Ajakan ini diikuti dengan reaksi “mereka pun datang, melihat… dan… tinggal bersama-sama dengan Dia”. Kata kerja datang, melihat dan tinggal menjadi inspirasi bagi kita sebagai pengikut Yesus. Datang terlebih dahulu kepada Kristus, supaya kita bisa melihat dari dekat yang berarti mengenalnya untuk kemudian tinggal dan bersatu bersama-Nya. Tiga tindakan ini juga semestinya kita berlakukan untuk mengenali Allah yang hadir dalam diri sesama yang membutuhkan bantuan cinta kasih kita. Menjadi tindakan yang keliru dalam hal hidup beriman ketika kita melihat(-lihat) terlebih dahulu, datang dengan konsep yang kita miliki, dan tidak mau tinggal bersama dalam iman.*** (R.YKJ)

Sabtu, 10 Mei 2014

Hari doa panggilan sedunia ke-51

PESAN PAUS FRANSISKUS
PADA HARI DOA SEDUNIA UNTUK PANGGILAN
KE-51 
11 Mei 2014 – Hari Minggu Paskah IV
 Tema: Panggilan, Saksi Terhadap Kebenaran


Saudara-saudari yang terkasih,
1.         Injil mengatakan bahwa “Yesus berkeliling ke semua kota dan desa….. Ketika melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ‘Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.’" (Mat.9:35-38). Sabda Yesus tersebut mengejutkan kita, karena kita semua tahu bahwa biasanya hal terpenting pertama-tama membajak, menebarkan benih dan menanam; kemudian ketika tiba saatnya menuai panenan yang berlimpah-ruah. Namun sebaliknya Yesus langsung berkata bahwa “tuaian memang banyak”. Siapa yang telah melakukan proses itu semua? Hanya ada satu jawabannya, yaitu Allah. Sangat jelas sekali bahwa ladang yang Yesus maksudkan adalah manusia, yaitu kita semua. Dan tindakan yang tepat-guna sehingga menghasilkan “buah berlimpah” adalah rahmat Allah sendiri, yaitu persatuan dengan Allah (bdk. Yoh. 15:5). Oleh karena itu doa yang Yesus minta dari pihak Gereja adalah perhatian terhadap kebutuhan akan pertambahan jumlah orang yang melayani Kerajaan-Nya. Santo Paulus, salah seorang dari “pelayan-pelayan Allah”, tak kenal lelah membatikan dirinya bagi penyebaran Injil dan kelahiran Gereja. Dia adalah seorang Rasul, yang sadar sebagai seorang yang memiliki pengalaman akan misteri Allah yang menyelamatkan dan bagaimana rahmat Allah adalah sumber dari setiap panggilan, sembari mengingatkan umat kristiani di Korintus: “Kamu adalah ladang Allah” (1 Kor.3:9). Itulah sebabnya pertama-tama muncul rasa kagum dari dalam hati kita atas tuaian yang berlimpah yang hanya dapat dianugerahkan sendiri oleh Allah; kemudian rasa syukur atas kasih yang selalu mendahului kita; dan akhirnya sembah bakti atas karya yang telah Dia sempurnakan, yang menuntut persetujuan kita dalam melaksanakannya bersama Dia dan demi Dia.
2.        Sering kali kita berdoa dengan kata-kata seperti Pemazmur: “Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.” (Mzm.100:3); atau “TUHAN telah memilih Yakub bagi-Nya, Israel menjadi milik kesayangan-Nya.” (Mzm. 135:4). Kita adalah milik “kepunyaan” Allah bukan dalam arti kita sebagai budak-Nya, melainkan mengacu pada makna suatu ikatan yang kuat, yang menyatukan kita dengan Allah dan dengan sesama satu sama lainnya, sesuai dengan perjanjian kekal, karena “untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm.136). Dalam konteks panggilan Nabi Yeremia, misalnya, Allah mengingatkan kita bahwa Dia terus-menerus memperhatikan kita masing-masing, agar firman-Nya terlaksana di dalam diri kita. Gambaran ini diumpamakan seperti sebatang dahan pohon badam yang mengeluarkan bunga paling awal, yang mengungkapkan kelahiran kembali kehidupan pada musim Semi (bdk. Yer. 1:11-12). Segala sesuatu berasal dari Allah dan merupakan rahmat: dunia, kehidupan, kematian, masa kini, dan masa yang akan datang, tetapi – sebagaimana dijanjikan oleh Rasul (Paulus) – “kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah” (1 Kor. 3:23). Karena itu, model kepemilikan Allah dijelaskan demikian: menjadi milik Allah itu timbul dari suatu relasi yang unik dan personal dengan Yesus, berkat Sakramen Baptis yang kita terima dulu, menjadikan kita dilahirkan kembali dalam kehidupan yang baru. Oleh karena itu, Kristus sendirilah yang terus menerus memanggil kita melalui Firman-Nya untuk menaruh iman kita kepada-Nya, mengasihi-Nya “dengan segenap hati, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita” (Mrk.12:33). Maka, setiap panggilan, meskipun melalui berbagai jalan, selalu menuntut suatu exodus (keluar dari) diri sendiri agar dapat memusatkan hidup seseorang hanya kepada Kristus dan kepada Injil-Nya. Baik dalam kehidupan berkeluarga maupun dalam hidup religius, demikian juga dalam kehidupan imamat, kita harus melampaui cara berfikir dan cara bertindak yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini merupakan suatu “exodus yang menghantar kita pada suatu perjalanan sembah-bakti kepada Tuhan dan pelayanan kepada-Nya dalam diri saudara-saudari kita” (Kata Sambutan kepada Persatuan Internasional Para Superior Jendral, 8 Mei 2013). Karena itu, kita semua dipanggil untuk sembah-bakti kepada Yesus dalam hati kita (1 Pet. 3:15) agar dapat membiarkan diri kita disentuh oleh denyut rahmat yang terkandung dalam benih Sabda, yang harus tumbuh dalam diri kita dan diubah menjadi suatu pelayanan konkrit kepada sesama kita. Kita tidak perlu takut: Allah mengawal karya tangan-Nya dengan kasih dan kuasa-Nya dalam setiap tahap kehidupan kita. Dia tidak pernah meninggalkan kita! Dia menyelesaikan rencana-Nya bagi kita di dalam hati, dan karena itu Dia berharap menerimannya dengan persetujuan dan kerjasama kita.
3.        Dewasa ini juga, Yesus tinggal dan setiap hari menyusuri lorong-lorong kehidupan kita, agar Dia dapat menjumpai setiap orang, mulai dari yang paling kecil-hina dan menyembuhkan kita dari setiap kelemahan dan penyakit. Saya memberi perhatian kepada orang-orang yang telah menyediakan diri dengan sebaik-baiknya untuk mendengar suara Kristus yang diperdengarkan di dalam Gereja dan memahami panggilan mereka masing-masing. Saya mengajak Anda untuk mendengarkan dan mengikuti Yesus serta membiarkan diri Anda diubah dari dalam (secara rohani) oleh firman-Nya, yang adalah “roh dan kehidupan” (Yoh.6:62). Maria, ibu Yesus dan bunda kita, juga memberi pesan kepada kita: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu.!” (Yoh. 2:5). Hal ini akan membantu Anda untuk mengambil bagian dalam suatu peziarahan bersama yang memungkinkan Anda untuk menghasilkan energi-energi yang paling baik di dalam diri Anda dan sekitar Anda. Panggilan adalah buah yang masak/matang berkat pengolahan ladang (diri manusia-red) secara baik, yaitu saling mengasihi yang kemudian menjadi saling melayani, dalam perspektif suatu kehidupan gerejani yang otentik. Tidak mungkin panggilan itu muncul sendiri atau ada bagi dirinya sendiri. Panggilan itu mengalir dari hati Allah dan tumbuh-kembang di tanah yang baik dari umat beriman, yaitu di dalam pengalaman kasih persaudaraan. Bukankah Yesus pernah bersabda: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yoh.13:35)?
4.        Saudara-saudariku yang terkasih, “standar tinggi kehidupan kristiani” ini (bdk. Yohanes Paulus II, Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte, 31), kadang-kadang akan berbenturan dengan gelombang kehidupan dan karena itu menghadapi aneka batu sandungan, baik di luar maupun di dalam diri kita. Yesus sendiri telah mengingatkan kita: benih yang baik dari firman Allah sering kali dirampas oleh si Jahat, terhalang oleh goncangan dan himpitan aneka persoalan dan godaan duniawi (bdk. Mat. 13:19-22). Semua kesulitan tersebut dapat melemahkan kita, membuat kita mundur ke belakang di jalan-jalan yang sepintas nampaknya menyenangkan. Namun demikian, kegembiraan sejati dari mereka yang dipanggil terdiri dari iman dan pengalaman bersama dengan Dia yang adalah Tuhan, Dia yang adalah setia, dan bersama Dia, kita dimampukan untuk  melangkah maju, menjadi murid-murid dan saksi-saksi kasih Allah, yang membuka hati untuk hal-hal yang besar dan luar biasa. “Kita orang-orang Kristen bukan dipilih oleh Tuhan untuk hal-hal kecil; doronglah terus menuju prinsip-prinsip yang paling tinggi-luhur. Pancangkan hidupmu pada cita-cita yang mulia!” (Khotbah Misa Kudus dan Pelayanan Sakramen Penguatan, 28 April 2013). Saya minta Anda, para Uskup, para imam, kaum religius dan jemaat-jemaat serta keluarga-keluarga Kristiani untuk merancang pastoral panggilan, dengan arahan sebagai berikut: mendampingi kaum muda di jalan-jalan kekudusan yang, karena jalan-jalan tersebut bersifat personal, “dipanggil untuk suatu pelatihan yang tulus-murni dalam kekudusan’ sehingga memampukan mereka menyelaraskan diri dengan kebutuhan setiap orang. Pelatihan ini harus memadukan sumber-sumber yang diberikan kepada setiap orang baik oleh pribadi-pribadi yang berpandangan tradisional dan kelompok pendukungnya, maupun bentuk-bentuk dukungan model terbaru oleh asosiasi-asosiasi dan gerakan-gerakan tertentu yang sudah dikenal oleh Gereja” (Novo Millenio Ineunte, 31).
Karena itu, marilah kita bangun hati kita menjadi “tanah yang subur”, dengan cara mendengarkan, menerima dan menghayati Sabda, dan karenanya dapat menghasilkan buah-buahnya. Semakin kita bersatu dengan Yesus melalui doa, Kitab Suci, Ekaristi, Sakramen-sakramen yang kita rayakan dan kita hayati dalam Gereja dan dalam persaudaraan, maka akan semakin tumbuh dalam diri kita suatu sukacita kerja-sama dengan Allah dalam pelayanan bagi Kerajaan-Nya, yaitu Kerajaan kasih dan kebenaran, Kerajaan Keadilan dan Perdamaian. Dan tuaian akan berlimpah ruah, sepadan dengan rahmat yang telah kita terima dalam hidup kita secara lembut. Dengan harapan ini, sambil memohon Anda untuk mendoakan saya, dengan hati tulus saya menganugerahkan segenap Berkat Apostolik saya.

Dari Vatikan, 15 Januari 2014
PAUS FRANSISKUS

(diambil dari KKI Karya Kepausan Indonesia)

Jumat, 08 Juli 2011

Sabtu, 09 Juli 2011
Hari Biasa Pekan XIV

"Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!" (Mzm 105:4)

Doa Renungan

Allah Bapa, kebenaran-Mu tak tersangkal dan tak dapat ditutupi. Bantulah aku hari ini untuk menemukan kebenaran-Mu dan mengakuinya di hadapan dunia. Jadikanlah aku saksi-Mu yang setia. Berilah kekuatan untuk menyangkal diriku dan dunia serta mengakui kebenaran-Mu di hadapan sesama. Amin.

Pembacaan dari Kitab Kejadian (49:29-32; 50:15-26a)
"Allah akan memperhatikan kalian, dan membawa kalian keluar dari negeri ini."

Waktu akan meninggal Yakub berpesan kepada anak-anaknya, "Apabila aku nanti dikumpulkan kepada kaum leluhurku, kuburkanlah aku di sisi nenek moyangku dalam gua di ladang Efron, orang Het itu, dalam gua di ladang Makhpela di sebelah timur Mamre di tanah Kanaan, yaitu ladang yang telah dibeli Abraham dari Efron, orang Het itu, untuk menjadi kuburan milik keluarga. Di situlah dikuburkan Abraham beserta Sara, isterinya; di situ pula dikuburkan Ishak beserta Ribka, isterinya, dan di situlah juga kukuburkan Lea. Ladang dengan gua di sana telah dibeli dari orang Het." Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka, "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalas kita sepenuhnya, atas segala kejahatan yang telah kita lakukan terhadapnya." Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf, "Sebelum ayahmu meninggal, ia telah berpesan, 'Beginilah hendaknya kalian katakan kepada Yusuf. Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu'." Ketika permintaan disampaikan kepadanya, menangislah Yusuf. Saudara-saudara Yusuf pun datang sendiri-sendiri dan sujud di depannya serta berkata, "Kami datang untuk menjadi budakmu." Tetapi Yusuf berkata, "Janganlah takut, sebab aku bukan pengganti Allah. Memang kalian telah membuat rencana yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mengubahnya menjadi kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Maka janganlah takut. Aku akan menanggung makanmu dan juga makanan anak-anakmu." Demikianlah Yusuf menghiburkan saudara-saudaranya dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya. Yusuf tetap tinggal di Mesir beserta kaum keluarganya. Ia hidup seratus sepuluh tahun. Jadi Yusuf sempat melihat anak cucu Efraim sampai keturunan yang ketiga; juga anak-anak Makhir, anak Manasye, lahir di pangkuan Yusuf. Waktu akan meninggal, berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya, "Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kalian dan membawa kalian keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub." Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya, "Tentu Allah akan memperhatikan kalian. Pada waktu itu kalian harus membawa tulang-tulangku dari sini." Kemudian Yusuf meninggal dunia.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 4/4, PS 845
Ref. Tuhan adalah kasih setia bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya.
Ayat. (Mzm 105:1-2.3-4.6-7; Ul: 7a.8a))

1. Bersyukurlah kepada Tuhan, serukanlah nama-Nya, maklumkanlah perbuatan-Nya di antara bengsa-bangsa. Bernyanyilah bagi Tuhan, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!
2. Bermegahlah dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan. Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah selalu wajah-Nya!
3. Hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, pilihan-Nya! Dialah Tuhan Allah kita, ketetapan-Nya berlaku di seluruh bumi.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Berbahagialah kalian, kalau dicacimaki demi Yesus Kristus, sebab Roh Allah ada padamu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (10:24-33)

"Janganlah takut kepada mereka yang membunuh badan!"

Pada waktu itu Yesus bersabda kepada keduabelas murid-Nya, "Seorang murid tidak melebihi gurunya, dan seorang hamba tidak melebihi tuannya. Cukuplah bagi seorang murid, jika ia menjadi sama seperti gurunya, dan bagi seorang hamba, jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. Jadi janganlah kalian takut kepada mereka yang memusuhimu, karena tiada sesuatu pun yang tertutup yang takkan dibuka, dan tiada sesuatu pun yang tersembunyi, yang takkan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah dalam terang. Dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah dari atas atap rumah. Dan janganlah kalian takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Tetapi takutilah Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual seduit dua ekor? Namun tak seekor pun akan jatuh tanpa kehendak Bapamu. Dan kalian, rambut kepalamu pun semuanya telah terhitung. Sebab itu janganlah kalian takut, karena kalian lebih berharga daripada banyak burung pipit. Barangsiapa mengakui Aku di depan manusia, dia akan Kuakui juga di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, dia akan Kusangkal di hadapan Bapa-Ku yang di surga."
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Yesus sebagai guru mengingatkan para murid-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah dengan penuh keberanian. ”Jangan takut terhadap mereka” (Mat. 10:26) mengindikasikan bahwa para murid tidak boleh takut terhadap roh kejahatan seperti yang ditegaskan dalam ayat sebelumnya, ”Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan kelemahan” (Mat. 10:1). Para murid diperintahkan untuk mengalahkan kuasa iblis, bukan untuk takut kepadanya. Para murid hanya boleh takut kepada Allah yang berkuasa atas mati dan hidupnya manusia. Yang dimaksud dengan takut kepada Allah adalah takwa dan taat pada kehendak-Nya, yang bertujuan demi kebaikan dan keselamatan manusia itu sendiri.

Allah yang menguasai kehidupan adalah Allah yang menghargai kehidupan manusia itu. Para murid dan setiap kita berharga di mata-Nya melebihi ciptaan lainnya. Karena itu, Allah tidak akan membiarkan manusia hancur di tangan iblis yang mau merusak hidup manusia. Allah bahkan akan menjaga sampai setiap helaian rambut manusia dan tidak akan dibiarkan hilang sehelai pun.

Ya Tuhan Allah, aku bersyukur karena Engkau menjadikan aku berharga di mata-Mu dan Engkau tidak akan membiarkan aku dikalahkan oleh roh kejahatan. Berkatilah aku selalu agar mampu mengalahkan roh kejahatan yang akan merusak kehidupanku. Amin.
Ziarah Batin 2011, Renungan dan Catatan Harian

Jumat, 24 Juni 2011

Minggu, 26 Juni 2011
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. <---> Yohanes 6:56

Antifon Pembuka

Umat-Mu Kauberi makan sari gandum dan Kaupuaskan dengan madu kuat.

Doa Renungan

Tuhan Yesus Kristus, dalam Sakramen Ekaristi yang luhur ini Engkau mewariskan kepada kami kenangan mulia akan wafat dan kebangkitan-Mu. Semoga kami selalu mengagungkan misteri kudus tubuh dan darah-Mu, sehingga pantas menikmati hasil penebusan-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan, Pengantara kami, yang hidup dan bertakhta bersama Bapa dalam persatuan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Ulangan (8:2-3.14b-16a)

"Tuhan memberi engkau makan manna yang tidak kaukenal dan juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu."

Di padang gurun seberang Sungai Yordan berkatalah Musa kepada umat Israel, “Ingatlah akan seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun itu. Maksud Tuhan ialah merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Tuhan merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala yang diucapkan Tuhan. Ingatlah selalu pada Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Dialah yang memimpin engkau melalui padang gurun yang luas dan dahsyat itu, dengan ular-ularnya yang ganas serta kalajengkingnya, dengan tanahnya yang gersang, yang tidak ada airnya. Dialah yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras. Dialah yang di padang gurun memberi engkau makan manna yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do=a, 2/2, PS 863
Ref. Pujilah Tuhan, hai umat Allah. Pujilah Tuhan, hai umat Allah.
Ayat. (Mzm 147:12-13.14-15.19-20; Ul:12a)

1. Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion. Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anak yang ada padamu.
2. Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu, dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik. Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi, dengan segera firman-Nya berlari.
3. Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal.

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (10:16-17)
"Karena roti itu hanya satu, maka kita ini, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh."

Saudara-saudaraku terkasih, bukankah piala syukur yang kita syukuri merupakan persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita bagi-bagi merupakan persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti itu hanya satu, maka kita ini, sekalipun banyak merupakan satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Madah Ekaristi, sol = es, m.7, PS 556

Syair: Lauda Sion, ayat 1-4.5-8 Thomas dari Aquino 1263/64, terj. Komlit KWI 1992
Lagu: Prancis abad ke-12, Graduale Romanum 1974

1. Sion, puji Penyelamat, Sang Pemimpin dan Gembala dalam kidung pujian.
2. Pujilah sekuat hati, kar'na Dia melampaui puji yang kaulambungkan.
3. Hari ini yang tersaji: Roti Hidup yang dipuji, sumber hidup yang kekal.
4. Itulah yang dihidangkan bagi para rasul Tuhan: Tak perlu diragukan.
5. Lihat Roti malaikat, jadi boga peziarah: sungguh itu rotri putra, anjing jangan diberi.
6. Inilah yang dilambangkan waktu Ishak dikurbankan: Domba Paskah disajikan, dan manna dihujankan.
7. Yesus, Roti yang sejati, Kau Gembala murah hati, s'lalu lindungilah kami, dan tunjukkan pada kami bahagia yang kekal.
8. Dikau Allah mahakuasa, bimbing kami, insan fana, undang kami dalam pesta, dan jadikan kami warga umat kudus bahagia. Amin. Alleluya.

Bait Pengantar Injil, do=as, 2/2, PS 957
Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 6:51, 2/4)
Akulah roti hidup yang telah turun dari surga, sabda Tuhan.
Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (6:51-58)
"Tubuh-Ku benar-benar makanan, Darah-Ku benar-benar minuman."

Di rumah ibadat di Kapernaum Yesus berkata kepada orang banyak, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. Dan roti yang Kuberikan ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Orang-orang Yahudi bertengkar antar mereka sendiri dan berkata, “Bagaimana Yesus ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan!” Maka kata Yesus kepada mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barang-siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku, dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa memakan Aku, ia akan hidup oleh Aku. Akulah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
Renungan

Rekan-rekan yang baik!

Pada hari raya Tubuh dan Darah Kristus tahun A ini dibacakan Yoh 6:51-58. Marilah sekadar kita tengok konteksnya. Dalam Yoh 6:25-58 Yesus memperkenalkan diri sebagai "roti kehidupan", yakni makanan yang memberi hidup. Pengajaran di rumah ibadat di Kapernaum ini mengingatkan pada pokok mengenai "air kehidupan" yang diutarakannya kepada perempuan Samaria (Yoh 4:1-42). Pembicaraan itu memperkaya batin perempuan tadi. Demikian juga, orang-orang Yahudi diajak semakin mengenali siapa Yesus itu sesungguhnya. Dalam bagian pertama pengajarannya, Yoh 6:25-50, Yesus membuat orang-orang itu menengok kepada pengalaman mereka sendiri sambil mendorong mereka agar maju lebih jauh dan mengerti siapa dia yang sudah datang di tengah-tengah mereka. Tetapi mereka tidak memahami dan malah berputar-putar pada gagasan mereka sendiri mengenai siapa Yesus itu. Pembaca akan dapat melihat kesulitan mereka. Dalam bagian kedua, yakni Yoh 6:51-58, Yesus mengajarkan bukan saja bagaimana mengenali dia, melainkan bagaimana menerima dia. Reaksi orang-orang Yahudi yang meragukannya itu dapat menjadi cermin bagi pembaca. Apakah kita lebih condong mengikuti cara berpikir mereka yang membuat mereka tidak memahami Yesus atau lebih terbuka kepada ajakannya.

"DAGING" DAN "DARAH"

Dalam Injil Yohanes, "daging" dipakai untuk membicarakan manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, tetapi tanpa mengikutsertakan sisi-sisi jahat. Matius, Markus dan Lukas dan juga Paulus memakai kata "tubuh" dengan arti yang sama. (Boleh dicatat, dalam tulisan-tulisan Paulus, "daging" memiliki konotasi buruk, yakni manusia rapuh sejauh dikuasai dosa; untuk pengertian ini Yohanes memakai kata "dunia".) Dalam Pembukaan Injil Yohanes, dikatakan, Sang Sabda menjadi "daging" (Yoh 1:14), artinya Yang Ilahi itu mendatangi dunia dalam ujud manusia biasa, bahkan rapuh. Hanya dengan demikian ia dapat sungguh merasakan kuatnya kuasa yang jahat walaupun ia sendiri tidak kalah dan menjadi bagian dari kuasa itu. Ia menunjukkan bahwa manusia tidak seluruhnya dapat dikuasai yang jahat. Dengan demikian ia dapat menjadi tumpuan harapan orang banyak. Siapa saja yang kemudian mengikutinya dan bersatu dengan dia akan selamat dan mencapai hidup kekal.

Bagaimana dengan "darah"? Dalam cara bicara orang waktu itu, "darah" biasa dipakai untuk menyebut tempat nyawa. Di situlah letak kehidupan Dengan menyerahkan nyawanya - darahnya - bagi orang banyak, Yesus berbagi kehidupan dengan orang banyak pula.

Hidup Yesus berakhir pada kayu salib. Wafatnya menjadi kurban bagi penebusan orang banyak. "Daging" (kerapuhan manusia) dan "darah" (kehidupan) yang menjadi kenampakan Sabda Ilahi itu menjadi jalan penyelamatan. Bergabung dengannya berarti menempuh jalan itu. Inilah yang kemudian dibahasakan dengan siapa saja yang makan dagingnya akan mengambil bagian dalam hidup kekal. Tetapi orang-orang tidak menangkap dan saling mempertengkarkan bagaimana dia bisa memberikan dagingnya untuk dimakan (ay. 52).

Kesulitan memahami kata-kata Yesus itu disampaikan dan dijelaskan dalam petikan ini. Orang-orang sulit menerima pemberian Yesus yang sesungguhnya. Mereka ingin pemberian yang mereka maui, seperti roti atau makanan biasa yang diberikan Yesus kepada orang banyak (Yoh 6:1-14). Yesus sendiri berkata bahwa mereka mencari dia karena telah makan roti dan kenyang dan bukan karena mereka melihat dan mengerti tanda-tanda, termasuk tanda roti tadi (Yoh 6:26). Orang-orang itu tak memahami bahwa pemberian roti kepada orang banyak itu tanda bagi pemberian yang datang dari dalam diri Yesus sendiri, yakni pengorbanan diri bagi mereka. Kisah ini dapat membantu kita melihat kerugian memahami Yesus dari segi "kegunaan" belaka: mengenyangkan tapi kemudian akan lapar lagi, memuaskan keinginan mengalami mukjizat, tapi setelah itu keadaan akan menjadi biasa kembali.
ROTI KEHIDUPAN - EKARISTI

Apa yang hendak disampaikan Yesus? Bukan hanya roti yang mengenyangkan secara badaniah dan membuat orang melihat Yesus sebagai "nabi" (Yoh 6:14) yang patut diangkat menjadi pemimpin, bahkan raja (6:15). Yesus malah menghindari harapan seperti itu. Orang-orang Yahudi berpikir apakah Yesus itu Musa yang baru (bdk. Yoh 6:30-31) tokoh yang membuat orang menemukan makanan harian atau manna yang diberikan Tuhan sampai mereka memasuki Tanah Terjanji (Kel 16). Tetapi Yesus mengajak orang agar melihat bahwa yang memberi makanan dari langit itu ialah Bapanya. Lebih lanjut lagi, sekarang ini dirinyalah roti yang turun dari surga itu. Menerima dia, mempercayainya, akan membuat mereka mendapatkan roti yang memberi hidup (Yoh 6:32-40).

Orang-orang malah semakin tidak bisa melihat siapa Yesus itu. Mereka hanya bisa melihat dia sebagai anak Yusuf yang mereka kenal dari dulu (Yoh 6:42). Kepekaan batin mereka tidak berkembang. Mereka hanya mau memandanginya dengan ukuran-ukuran yang membuat mereka merasa aman: nabi, pemimpin tipe Musa, zaman kebesaran dulu, dan ketika ia mengajak mereka menengok ke arah yang lebih dalam, mereka malah berkata, lho, ini kan anak Pak Yusuf itu, mana bisa jadi pimpinan seperti kita gambarkan tadi? Kepada pembaca Injil Yohanes disodorkan ketidakpahaman orang-orang yang sudah sedemikian dekat dengan sang roti kehidupan itu sendiri. Apakah kita seperti mereka?

WARTA Yoh 6:51-58 BAGI GEREJA
Yohanes memakai pengertian "daging" (dan bukan "tubuh" seperti Injil Sinoptik dan Paulus) untuk lebih membuat kita mengerti kesamaan antara Yesus yang sedang berbicara itu dengan yang diwartakan pada awal Injil: "Dan sang Sabda itu telah menjadi manusia, harfiahnya "daging", dan tinggal di antara kita..." (Yoh 1:14). Gereja sebagai komunitas orang beriman percaya bahwa Yesus itu ada di tengah-tengah mereka dan menghayatinya dalam bentuk ekaristi.

Yesus itu pemberian dari surga yang membawakan hidup ke dunia. Dan pemberian ini lebih luas kehidupan biasa yang beriramakan lapar, kenyang, lapar lagi, melainkan yang membawa ke kehidupan yang tak lagi dibawahkan pada perputaran itu. Bagaimana kenyataannya, tidak dikatakan dengan jelas, dan justru sulit diperkatakan. Hanya dapat dipahami dengan menghayatinya. Inilah cara berbagi hidup kekal dengannya seperti terungkap dalam Yoh 6:51 dan 58. Iman akan ekaristi menjadi cara Gereja menerima kebenaran warta Yesus itu. Sikap orang beriman berkebalikan dengan sikap mereka yang mempertanyakan bagaimana itu mungkin (ay. 52).

Mereka yang mengikuti Yesus dihimbau agar terus berusaha memberi isi nyata pada apa itu berbagi kehidupan surgawi, apa itu mengarah ke hidup kekal, menemukan roti kehidupan yang sesungguhnya di dalam hidup sehari-hari. Ini iman yang mengangkat kesehari-harian menjadi yang makin dekat ke kehadiran ilahi. Ada ajakan untuk mengusahakan agar kenyataan rohani itu berdampak pada kenyataan sehari-hari juga. Tidak disangkal adanya ketimpangan di kalangan pengikut Yesus sendiri. Ini kelemahan mereka. Tapi justru dengan menyadari sisi-sisi yang manusiawi itu orang beriman semakin dapat berharap bersatu dengan kurban persembahan Yesus sendiri. Itulah makna pernyataan "siapa yang makan dagingnya dan minum darahnya akan tinggal dalam aku dan aku dalam dia" (Yoh 6:56). Dan kurban bersama ini menyelamatkan dunia. Dalam arti ini ekaristi ialah bentuk nyata ikut serta dalam kurban penebusan tadi.

EKARISTI DAN HIDUP SEHARI-HARI

Apakah menyambut komuni sama dengan kepercayaan itu? Kalau begitu kok orang tidak jadi makin baik. Di lingkungan keagamaan mungkin semuanya baik-baik, tapi di luar di dalam hidup sehari-hari tingkah lakunya lain. Kenyataan ini memang sering kita lihat. Namun demikian, acap kali kita terlalu memandang ekaristi sebagai obat kuat rohani atau jamu kelakuan baik. Pandangan seperti itu malah menjauhkan kita dari nilai ekaristi yang sesungguhnya Mengapa? Ekaristi itu sakramen yang menghadirkan kenyataan rohani dalam diri kita. Tetapi kehadiran ini perlu diberi ruang dalam kehidupan sehari-hari pula. Lalu, bila begitu apa bedanya dengan orang yang tidak kenal akan ekaristi tapi toh berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari. Tidak bisa kita hadapkan dua perkara ini begitu saja. Tiap orang dapat berlaku baik, dengan atau tanpa ekaristi. Dan memang manusia memiliki bakat berbuat baik. Tapi orang yang percaya akan kekuatan ekaristi akan semakin melihat dan mengakui bahwa kemampuan berbuat baik serta keberanian untuk menjadi makin manusiawi dan makin lurus itu datang dari atas sana. Bukan dari kekuatan manusiawi sendiri. Bagi orang yang percaya, kemampuan berbuat baik itu anugerah ilahi. Dan anugerah inilah yang ditandai dengan ekaristi. Dalam arti inilah ekaristi membuat kita semakin dekat dengan kehidupan Yang Ilahi sendiri.

Salam hangat,
A. Gianto